Menunggu Pemimpin Peduli Bengawan Solo

0
1164

Gesang Martopawito memberikan kesaksian betapa indah sungai Bengawan Solo di masa lalu. Kesaksian itu diungkapkan lewat lagu yang diciptakannya pada musim kemarau panjang tahun 1940. Saat itu dia berada di tepian Bengawan Solo dan melihat anak-anak desa main sepakbola di hamparan pasir tengah bengawan.

Lalu dengan seruling, Gesang menciptakan nada-nada dan dipadukan dengan lirik yang lahir dari penglihatan dan penghayatan akan sungai tersebut. Sehingga lahirlah lagu berjudul Bengawan Solo yang sampai sekarang masih dikenal masyarakat luas. Mata airmu dari Sala, terkurung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Sederhana namun cukup indah.

Kesaksian itu ada di buku Sejarah Bengawan Solo (Butir-butir Kesaksian Masyarakat) terbitan Gita Pertiwi cetakan 1995. Buku ini cukup menarik karena mencoba merekonstruksi kehidupan masyarakat sekitar sungai. Dan tak hanya itu, kesaksian-kesaksian tersebut juga

menghadirkan bahasa-bahasa yang sekarang sudah hilang di masyarakat. Kesaksian itu memang lokasinya di Surakarta dan sekitarnya, namun saya yakin tidak jauh beda di daerah yang dilewati sungai seperti Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik.

Kesaksian-kesaksian dalam buku tersebut menghadirkan aneka bahasa yang sekarang tak ada. Bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi. Melainkan juga menunjukkan pengetahuan dan cara hidup sebuah masyarakat. Bagaimana sebuah bahasa digunakan, diproduksi dan dikelola disebut dengan diskursus (wacana). Dalam konteks buku ini, apa yang diungkapkan oleh beberapa warga yang memberi kesaksian tentang Bengawan Solo sangatlah penting guna mengetahui kehidupan dan alam yang ada pada masa itu. Yakni masa pra kemerdekaan, masa pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan.

Mari kita bayangkan keadaan sungai Bengawan Solo masa lalu. Sungai memiliki alam yang sangat indah. Raja Pakubuwono X sering melakukan lelancar untuk melihat-lihat kondisi masyarakat sepanjang sungai. Sungai juga menjadi jalur transportasi perdagangan dari Sala ke Gresik. Di sungai, warga melakukan aktivitas mencuci, mandi, hingga mengambil air untuk minum.

Kesaksian-kesaksian yang lain menuturkan bahwa pada era tahun 1950 an, air sungai masih sangat jernih. Masyarakat sangat tergantung dengan sungai. Sungai menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Sehari sebelum bulan suci Ramadhan, orang-orang Jawa mandi di sungai dengan harapan membersihkan tubuh karena air bengawan diyakini lebih baik dibanding air sumber lain. Apalagi, waktu itu sumur juga masih sangat jarang dimiliki warga. Sedang sebelum hari raya Imlek, orang-orang China juga mandi di sungai untuk menyucikan diri.

Saya khawatir, kita lebih sering medengar kisah sungai pada masa lampau yang cukup jauh. Semisal Bengawan Solo era prasejarah, era kerajaan Mataram, era kerajaan Demak, atau era

kerajaan Pajang dan Jipang. Akibatnya, terbangun dalam pikiran kita bahwa air yang jernih,

kehidupan harmoni dengan sungai, tradisi larung ari-ari di sungai, dan sebagainya adalah tradisi masa lampau yang beratus-ratus tahun silam. Padahal, tradisi itu sebenarnya masih ada pada era tahun 1950. Bahkan, di sejumlah tempat pada tahun 1970 masih ada.

Sekadar membandingkan, ada dua buku yang juga mengupas kondisi sungai Bengawan Solo yakni buku Bengawan Solo Riwayatmu Dulu yang diterbitkan oleh Pusat Arkeologi Nasional (2013), dan buku Ekspedisi Bengawan Solo (Laporan Jurnalistik Kompas) yang cetak pertama tahun 2008.

Buku laporan Kompas memang juga memotret kondisi Bengawan Solo masa kini yang banyak ditemui kerusakan. Namun, gambaran lebih detail tentang kondisi Bengawan Solo dan masyarakat sekitar pada masa era awal kemerdekaan lebih banyak saya temukan di buku Sejarah Bengawan Sala (Butir-butir Kesaksian Masyarakat).

Kesimpulannya adalah, kondisi Bengawan Solo yang jernih dan mejadi pusat budaya masyarakat, bukanlah kondisi yang terjadi pada masa yang sudah beratus-ratus tahun lampau. Melainkan hanya terpaut puluhan tahun saja. Penyebab terbesar perubahan adalah pencemaran lingkungan oleh pabrik-pabrik yang banyak berdiri di sepanjang sungai dari hulu sampai hilir sejak tahun 1960 an. Bengawan solo tak mampu menampung keserakahan manusia dalam bidang ekonomi.

Kerusakan sungai bukan oleh tingkah polah masyarakat sekitar sungai, melainkan oleh pengusaha-pengusaha yang tinggal jauh dari sungai. Dan itu sudah lama terjadi. Pengusaha itu hanya datang, mendirikan pabrik, atau mengeruk pasir dengan peralatan mekanik, dan menyisakan kerusakan alam sungai yang sulit untuk dikembalikan lagi.

Nah, oleh karena itu, merawat sungai Bengawan Solo bukanlah sekadar bagaimana mengatasi banjir. Kalau soal banjir sih amatlah sederhana meski tetap juga penting dilakukan. Tapi, yang lebih dibutuhkan masyarakat sekitar adalah bagaimana mengembalikan kondisi sungai yang kini sudah berubah jauh. Dan tugas ini adalah menjadi tugas pemimpin Bojonegoro sekarang ataupun yang akan datang.

Saya yakin bupati atau calon bupati Bojonegoro mendatang pasti sudah memiliki konsep tentang itu. Kalau hanya konsep mengatasi banjir, saya tidak akan kaget lagi. Tapi kalau bisa membuat konsep mengembalikan Bengawan Solo yang indah dan mampu melaksanakannya, itu baru pemimpin hebat. Ya, menurut saya begitu sih. Bagaimana dengan anda.

Oh ya, anda pasti sudah tahu kan nama Bengawan Solo di masa lalu? Dan saya yakin anda sudah tahu. Salam.

________________

Ilustrasi: Lukisan sungai Bengawan Solo oleh Abraham Salam.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here