Mukicoi Nonton Film

0
1261
Ilustrasi: pinterest

Suatu ketika seusai menjalankan program kegiatan kependidikan, ketua kami di Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) mengajak kami untuk sekadar refreshing menonton film di satu-satunya gedung bioskop di kota Kediri. Tentu kami sangat senang. Karrena biasanya, acara refreshing ya cuma duduk-duduk sambil minum kopi.

Ada tawaran itu Mukicoi paling bersemangat, maklum ini akan menjadi pengalaman pertama baginya.

“Asyikk” teriaknya bersemangat.

Pukul 3.30 sore kami sudah berada di gedung bioskop. Dari sekian film yang tayang hari itu, kita memilih menonton film Ghost Ship, sebuah film yang dirilis tahun 2002 yang mengisahkan tentang sebuah kelompok Arctic Warior berpengalaman. Tugas mereka adalah untuk bisa menemukan berbagai benda-benda yang hilang di lautan lepas. Suatu kali mereka mendapatkan tugas untuk bisa menemukan sebuah kapal besar yang sudah menghilang selama 40 tahun dan harus berurusan dengan arwah para penghuni kapal tersebut.

Jam 4 tepat lampu bioskop dimatikan dan film dimulai. Jeritan para penonton yang histeris dan kaget (mungkin juga takut) karena terlalu menghayati cerita di film begitu riuh selama film berlangsung. Kurang lebih 1.5 jam akhirnya film berakhir.

Ketika lampu bioskop dinyalakan, dan kita semua berdiri bersiap-siap untuk keluar gedung. “Masya Allah.. Mukicoi..” teriak Mukidin. Kami pun kaget bertanya-tanya apa yang terjadi.

Setelah kami mendekat, asem tenan! Terlihat Mukicoi tidur pulas di kursi bioskop yang empuk. Kami tidak mengetahui sejak kapan Mukicoi tertidur, mungkin sejak makanan yang dibawa habis.

“Oalah Coi.. rugi ngajak kowe,” teriak yang lain dan disambut tawa.

Dasar Mukicoi, bukannya nonton film malah tidur. Setelah dibangunkan, Mukicoi hanya menggeliatkan badannya dan mengucap, “wow enak.”, yang membuat kami semakin marah campur terpingkal dan ingin menendangnya keras-keras karena gemas.

Setelah keluar dari gedung, kami semua menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda yang kami parkir. Di tempat parkir tersebut terlihat Mukicoi mondar mandir seperti kebingungan mencari sesuatu.

“Cari apa Coi,” teriak Mukidin.

“Sepedaku.. tadi tak parkir di sini tapi ndak ada,” jawab Mukicoi

Kami semua turun dari motor dan membantu mencari sepeda pancal yang dipakainya. Kami tadi tidak berangkat bersama-sama sehingga tidak tahu persis di mana Mukicoi memarkir sepeda onthelnya. Setelah menyisir semua area parkir, kami semua tidak menemukan sepeda yang kami cari.

“Lapor tukang parkirnya aja Coi,” kata Mukidin memberi saran.

Segera Mukicoi menuju pos penjagaan parkiran dan menyampaikan permasalahannya.

“Bisa lihat tiket parkirnya mas,” kata petugas parkir kepada Mukicoi.

Segera Mukicoi mengambil tiket parkir yang dia simpan di tasnya dan menyerahkannya kepada petugas parkir.

“Oalah mas.. mas. Sepedahe sampean di sana lo, di mall seberang jalan,” kata petugas parkir terlihat agak kesal sambil menyerahkan kembali tiketnya kepada Mukicoi.

“Oya.. lupa saya,” jawab Mukicoi dan langsung ngeloyor.

Ternyata Mukicoi memarkir sepedanya di sebuah mal di seberang jalan bukan di tempat parkir gedung bioskop. Melihat kejadian itu kami tertawa lagi untuk kesekian kali. Kok ada orang kayak gitu. Wkwkw. Oalah Coi.. Mukicoi.

 

SHARE
Penulis menerbitkan buku Urip Mung Nderek Ngguyu, Menabur Tawa Menuai Bahagia (2019). Alumni Ponpes Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro. Kini Tinggal di Kediri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here