Nama-nama yang Tak Sekadar Nama di Cerita Api di Bukit Menoreh

Api di Bukit Menoreh

Karya-karya SH Mintardja tak sekadar cerita silat. Tapi, dalam tiap kisahnya berkelindan sejarah, tokoh sejarah, serta pelajaran tentang strategi perang kerajaan di nusantara. Jika kita mau menyempitkan diri mengambil satu sisi saja, maka akan membantu ‘healing’ dengan imajinasi masa lampau.

Seperti kali ini, izinkan saya bercerita singkat tentang apa yang saya baca: Api di Bukit Menoreh yang baru saya baca hingga jilid 15. Pada jilid ini, dikisahkan tentang akhir peperangan antara bekas laskar Jipang dengan pasukan Pajang di Kademangan Sangkal Putung. Tohpati pemimpin laskar Jipang meninggal. Pasukan Pajang merayakan kemenangan.

Senopati Pajang Untara membuat keputusan memberi ampuran bagi bekas laskar Jipang yang menyerahkan diri. Dan ditentukanlah hari di mana bekas laskar Jipang untuk menyerahkan diri. Namun, sebelum hari yang ditentukan tiba, laskar Jipang terbelah. Sanakeling, pembantu Tohpati enggan meneyerahkan diri. Apalagi setelah dipengaruhi Ki Tambak Wedi dan muridnya, Sidanti dari perguruan di lereng Merapi.

Baca Juga:  Sosrodilogo dan “Che” Bojonegoro

Di kelompok bekas laskar Jipang yang hendak menyerahkan diri, terdapat satu tokoh sakti. Ia adalah paman dari Tohpati, bernama Sumangkar. Pada hari yang ditentukan, kelompok ini berjalan beriringan menuju Sangkal Putung.

Nah, saya bukan hendak mengulang cerita itu. Tapi inilah yang saya sukai. SH Mintardja banyak memasukkan tokoh-tokoh sejarah dengan penggambaran watak dan sosok fisiknya. Dan sang penulis terasa enteng sekali memasukkan karakter kepada tiap nama tokoh. Entah tokoh itu ada dalam sejarah ataupun hanya rekaan saja.

Sekedar menyebut contoh saja. Saat menyambut penyerahan diri bekas laskar Jipang, di Sangkal Putung telah hadir Gede Pemanahan dan anaknya Sutawijaya atau Raden Ngabehi Loring Pasar. Keduanya sempat terlibat pertempuran dengan Ki Tambak Wedi dan pengikutnya.

Baca Juga:  Menata Logika Berpikir, Belajar dari Mahbub Djunaidi

Dengan penggambaran yang dilakukan SH Mintardja, kita sebagai pembaca bisa menangkap tokoh-tokoh sejarah itu dalam imajinasi rupa dan karakter. Melalui kata-kata yang diciptakan, kita akan punya gambaran tersendiri tentang sosok-sosok tersebut.

Sutawijaya misalnya, yang tercatat mampu membunuh Arya Penangsang, adalah anak muda yang lincah, penuh semangat, dan mudah bergaul. Bukan sosok elitis. Kemampuan kanuragannya tak perlu diragukan. Tapi penggambaran sisi manusiawinya yang cukup menarik. Sutawijaya, saat di pendopo kademangan tak mau ikut duduk dalam lingkaran orang-orang sepuh. Ia memilih ‘bermain-main’ dengan Agung Sedayu (adik Untara) yang bukan seorang prajurit. Omongannya terkesan ceplas ceplos, khas anak muda yang punya jiwa egaliter. Ia dengan santai langsung menuju dapur dan memesan rujak degan bagi ayahnya Gede Pamanahan.

Sutawijaya dan Gede Pamahanan memang adalah tokoh-tokoh dalam sejarah. Gede Pamanahan adalah pendiri Desa Mataram yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan anaknya, Sutawijaya atau Panembahan Senopati.

Baca Juga:  Kisah Para Penikmat Puja-Puji

Nah, jika keduanya adalah tokoh penting dalam sejarah, maka beda dengan sosok-sosok lain dalam cerita Api di Bukit Menoreh.  Sebut saja Sumangkar, Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan masih banyak lagi.

Tapi, sebaiknya saya tundak dulu berkisah tentang nama-nama seperti Sumangkar, Kiai Gringsing, dan Agung Sedayu.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *