Ngaostik 3, Mengembalikan Rindu pada Pemiliknya

Bagaimana Ngaostik bekerja, bukan perihal penting untuk dipelajari. Tetapi, bagaimana Ngaostik menyajikan sebuah acara, tentu menjadi momen spesial untuk dihadiri. Ngaostik memang tidak menawarkan apa-apa, hanya berbagi teduh di tengah belantara panas yang membabibuta. Iya, tidak lebih dari itu.

Kemerungsung atmosfir politik yang kerap mengubah wajah teman dekat menjadi orang lain, memicu kebutuhan akan suasana pantai dan pegunungan untuk menyegarkan rasa. Hanya saja, karena “jauh” menjadi definisi jarak yang sesungguhnya, dengan sangat terpaksa, Ngaostik mendatangkan suasana pantai dan pegunungan itu sendiri, dengan cara sendiri: menghelat festival Ngaostik.

Festival Ngaostik adalah agenda rutin triwulanan yang dihelat oleh Ngaostik Institute: sebuah organisasi kultural bergerak di bidang literasi sekaligus ruang tadah bagi mereka yang memiliki hobi unik; dari hobi melamun hingga pemelihara dinosaurus, semua berkumpul di Ngaostik Institute.

Baca Juga:  #Narasi, Antologi Prosa Jurnalisme

Festival kecil-kecilan ini disajikan secara kolaboratif. Ngaostik menggabungkan sejumlah disiplin seni dalam satu kemasan. Dari seni rupa, musik, sastra, juga drama— dikemas dalam satu tema. Jika sebelumnya Ngaostik bertema: Kangen WS. Rendra, di Ngaostik 3 ini, tema yang diusung adalah: Mengembalikan Rindu pada Pemiliknya. Pemiliknya? Siapa? Hemmm.

Tak banyak ekspektasi dari pagelaran Ngaostik. Alih-alih memastikan dampak positif, Ngaostik hanya berupaya menyediakan ruang alternatif bagi siapapun untuk memperkalem perangai di tengah memanasnya konflik kepentingan  yang kian masif. Sesederhana itu.

Ngaostik adalah lembah Skogaffos di belantara kemarau Bojonegoro yang tandus. Berkonsep urban-minimalis, dalam acara tersebut, Ngaositizen berkumpul untuk mendendangkan buku, mengungkapkan pengalaman bahagia saat membaca buku. Tidak hanya itu, Ngaositizen juga menyanyikan puisi, mencatat bunyi, mengapresiasi karya seni, hingga meresapi berbagai nikmat Tuhan yang tersebar di muka bumi.

Baca Juga:  Kenapa di HJB Ke-341 Tidak Ada Pameran Buku?

Festival Ngaostik bukan sebuah agenda besar. Diselenggarakannya festival tersebut, tidak lebih hanya sebuah upaya untuk memeriuhkan pehobi baca buku agar tidak terus-terusan berteman sunyi dan merasa sendiri. Mini festival tersebut dikerjakan atas dasar riang gembira dan tanpa target beban kerja. Berapapun pengunjung yang hadir, tidak mengurangi kualitas sajian Ngaostik. Bahkan, jika hanya ada dua, tiga, atau tak ada satu pun pengunjung yang datang, Ngaostik tetap utuh tanpa terkurangi suatu apapun.

Pada 19 November 2017, bertempat di sebelah KUA Kecamatan Dander, Bojonegoro, Anda boleh datang ke Ngaostik sendirian. Anda juga boleh datang ke Ngaostik bersama keluarga, teman atau gebetan. Bahkan, Anda juga boleh tidak datang ke acara Ngaostik, dan itu adalah golongan orang-orang yang merugi.

Baca Juga:  Keberimbangan Berita, Tantangan Pers Kini dan Masa Menjelang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *