BUKU  

Pak Amat; Mantan Rakyat yang Menjadi Raja

Rakyat sekarang ini bukanlah sebuah pengertian, untuk merangkum kawula berhadapan dengan Gusti. Rakyat sudah menjadi kiat. Ia dipakai untuk membenarkan tindakan-tindakan keras. Bahkan juga diperalat sebagai galah untuk lompatan melanggar hukum. Dan akhirnya, rakyat juga dipakai untuk menghantam rakyat lain.

Rakyat sudah menjadi senjata siapa yang memegangnya, bahkan mengucapkannya saja, merasa mendadak menjadi kuat. Tangannya kontan terkepal, siap untuk menghantam. Dan sekali tangan terkepal, sulit untuk menguraikannya lagi. Mesti dan harus dihantamkan, supaya tenaga tersalur. Tidak bisa hanya menghantam udara, karena itu dapat kesleo dan sakit rasanya. Harus ada sasaran untuk dimakan. Politik menyebutnya: lawan atau kawan.

Pengertian rakyat sudah terkontaminasi. Ia menjadi begitu liar nan berbahaya. Artinya tidak sesuai lagi dengan apa yang ada di dalam kamus. Ia penuh dengan interpretasi. Ia begitu lentur sehingga nyaris tidak berarti. Karena ia bisa diartikan apa saja, oleh setiap orang dalam berbagai kesempatan.

Karena kericuhan dan kerancuan pengertian tersebut, Pak Amat tidak mau lagi disebut Rakyat. Kalau seorang pemimpin berpidato di radio atau televisi atau di podium pengerahan massa, Pak Amat sama sekali tak terwakili oleh setiap kata Rakyat yang dilontarkannya, hingga berbusa-busa sekalipun. Bahkan kalau partainya sedang mengatasnamakan diri sebagai Rakyat, Amat tersinggung.

“Diriku sama sekali merasa tak terlibat, kalau ada kata Rakyat dalam berita-berita media massa. Aku sudah berhenti jadi Rakyat”, kata Amat. “Sehingga di manapun kata Rakyat itu muncul, aku tidak tersangkut. Itu adalah urusan pribadi kata-kata itu sendiri. Aku berada di luarnya. Karena itu aku seorang pemimpin”.

Apa itu sebuah penghianatan, Amat?

“Sama sekali tidak!” bantah Amat keras. “Ini adalah sebuah pemberontakan. Kata Rakyat sudah terkontaminasi karena dilacurkan menjadi pembenaran kepada semua tujuan. Rakyat sekarang sudah menunjuk kepada kepentingan, golongan, kelompok bahkan seringkali nafsu pribadi yang tak berhak lagi mengerahkan aku. Pengabdianku kepada   Rakyat sudah berakhir, ketika para pemimpin mengumbar kata-kata itu untuk senjata guna membela dirinya!”

Kalau kamu bukan Rakyat, lalu siapa kamu, Amat?

“Aku seorang pemimpin. Aku seorang rakyat yang sekaligus jua pemimpin. Tugasku adalah menolak untuk dimasukkan se enak udel’e dewe ke dalam barisan yang tujuannya adalah melakuakan pembenaran untuk sebuah sikap politik. Betapapun benarnya sikap tersebut secar politis. Aku menjadi Rakyat bukan karena tujuanku, tetapi karena kesediaanku untuk memimpin diriku. Walhasil aku menjadi pemimpin yang Rakyatnya adalah diriku sendiri. Aku pemimpin tanpa Rakyat. Aku juga Rakyat yang sekaligus pemimpin!”

Baca Juga:  Belajar Hidup Damai Meski Masalah Datang Silih Berganti

Pernyataan Amat membuat marah pimpinan partai. Ia dipanggil, kemudian diadili.

“Pak Amat kamu telah melakukan desersi. Di dalam militer hukumannya berat. Kalau kamu melakukan itu di tengah pertempuran, kamu harus dihukum mati!”

Pak Amat mengangguk. Ia berkata;

“Aku tidak bisa dihukum. Aku sudah bunuh diri. Aku sudah bukan Rakyat yang berwujud lagi. Rakyat yang sudah diubah pengertian abstrak untuk kepentingan perdebatan, menjadi barisan konkrit berupa pengerahan massa yang menggelegak oleh energi kemarahan yang dapat diarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan fisik.

Aku mental (baca: terlempar) ketika diwujudkan menjadi senjata. Aku kembali menjadi Rakyat dalam pengertian tidak kasat mata. Aku tidak terlibat lagi dengan organisasi dan partai. Dan yang paling penting, aku memecatmu sebagai pemimpin, karena sekarang akulah pemimpi diriku!”

Pemimpin itu marah, ia memberi instruksi agar Amat dieksekusi. Bukan saja dikeluarkan, tetapi diberikan sanksi badan. Singkat kata: dihajar hingga babak belur agar kapok.

Sebuah mobil hard top kemudian mengunjungi rumah Pak Amat pada suatu subuh. Lima atau enam orang berpakaian gelap, serba hitam, turun mendobrak pintu rumah. Pak Amat diseret dari tempat tidur tanpa membangunkannya terlebih dahulu. Anak istrinya yang mencoba mempertahankan kepala keluarga yang mereka cintai itu, disekap di dalam kamar. Amat ditarik keluar. Ditendang ke mobil lalu dilarikan ke pantai sunyi.

Di tengah deburan ombak yang menyeruak pada pagi petang, Amat dihajar, ditendang, dimaki-maki (tentu saja), dipukul, dan akhirnya diultimatum.

“Kalau kau berani-berani lagi membelot sebgai Rakyat, kamu akan didera dua kali dari apa yang kau rasakan hari ini. Bukan hanya kamu, tapi seluruh keluarga kamu juga akan ditarik kemari dan mengalami gebrakan seperti apa yang sudah kamu rasakan, Amat. Kapok, tidak? Heh!”

Baca Juga:  Review Novel Menolak Ayah; Jalan Berliku Kehidupan Tondinihuta

Amat mengaduh. Seluruh tubuhnya ringsek.

“Ayo janji!”

“Janji apa?”

“Janji: kamu akan kembali ke barisan dan menjadi Rakyat sebagaimana kamu seharusnya Rakyat. Rakyat tidak boleh mengaku atau merasa diri pemimpin. Rakyat adalah orang yang dipimpin dan terpimpin. Rakyat adalah Rakyat. Kamu tak perlu ngomong, karena suara kamu sudah diucapkan oleh pemimpin. Kamu tidak usah merasa, karena perasaan kamu sudah ditampung dan diekspresikan berlipat ganda oleh pimpinan. Kamu tidak usah berpikir, karena yang berpikir itu pemimpin. Kamu jadi Rakyat saja! Rakyat tidak boleh berpikir. Rakyat hanya boleh bekerja, bersatu untuk mengahancurkan musuh dan lawan-lawan. Dan kalau lawan itu anak istrimu, kamu harus tetap memukulnya sampai kalah telak, Mengerti kau?”

Amat mengangguk, karena lehernya tak sanggup menggeleng.

“Hah, kamu paksa bagaimana juga untuk menggeleng, yang terjadi hanyalah anggukan. Itulah hakikat dari Rakyat. Ngerti?”

Amat dipulangkan lagi kerumahnya setelah dimasukkan namanya dalam daftar black list, Amat divonis sudah cacat sebagai Rakyat. Amat adalah Rakyat yang bukan lagi Rakyat. Ia mantan Rakyat.

“Pak Amat tak berhak lagi mendapatkan kenyamanan sebagaimana Rakyat lainnya nanti, apabila kemenangan sudah tercapai dan musuh-musuh kita telah kalah semua,” kata pemimpin partai.

Sekarang Amat sedang tergeletak di rumah. Keluarganya menangis. Kepala keluarga itu tidak sanggup lagi bekerja, karena badannya cidera. Berpikirpun sudah susah, karena setiap kali menggerakkkan pikiran, keluarganya segera memohon agar jangan dilanjutkan.

“Lebih baik kamu berantakan, asal tetap hidup, daripada menjadi pahlawan tetapi tinggal nama yang ditulis di nisan”, keluh istri dan keluarga Amat.

Amat adalah sebuah potret, Amat adalah sebuah profile. Amat adalah semacam anekdot. Apakah itu potert anda juga? Apakah profile anda? Atau Amat pun setali tiga uang, hanya bagian dari upaya memanipulasi kata Rakyat untuk satu target tertentu, untk satu kepentigan golongan tertentu, partai tertentu atau kelompok apapun tertentu?

Dan bagaimanapun Pak Amat adalah Rakyat; ia pergi ke kamar mandi menggosok seluruh badan dengan sabun wangi, menyampo rambutnya, tak lupa juga menggosok giginya. Dan ia kembali dengan handuk yang dililitkan tubuhnya dan berjalan berpapasan dengan istrinya yang duduk di kursi dapur dekat kamar mandi. Ia melirik istrinya, dengan senyum kecil di setiap sudut bibirnya, tanpa suara apapun Amat terus berjalan, lantas masuk ke kamar. Ia hendak ganti baju. Belum lagi Amat membuka pintu kamar, tanpa ia menoleh; Ia tahu, istrinya sangat mengenali senyum dan lirikan itu, si istri ganti mandi dengan buru-buru yang pasti tak lupa untuk membalurkan sabun wangi ke seluruh lekuk tubuhnya yang masih lentik nan menarik, bak bunga gerbera.

Baca Juga:  Perburuan Renten Pembangunan Infrastruktur Indonesia

Tak lama kemudian menyusul Pak Amat yang tengah duduk di ranjang. Ia sedang menantinya, yang ternyata masih belum ganti baju juga rupanya, ia masih mengenakan handuk putihnya. Kemudian si istri masuk tanpa sapa, tapa kata-kata, hanya terlihat senyum yang genit menggoda dengan tangan kirinya yang membenarkan ujung handuk di bagian belahan dadanya agar tak terjuantai ke lantai, sementara itu tangan kanannya dengan cepat mengunci pintu dari dalam.

Ah, sial! Ia lupa menggosok gigi. Ia keluar lagi, menyomot 2 permen sekaligus yang berada dalam toples di meja makan, yang memang disediakan untuk menghilangkan rasa pedas sehabis makan. Ia mengupas, dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Setengah berlari, ia masuk ke kamar dan membuang bungkus permen seenaknya, dan menguncinya kembali dari dalam.

Dan setelah itu, tak tahu apa yang mereka lakukan. Hanya sesekali terdengar dengus nafas yang saling berkejar-kejaran,  cepat, dan suara desah dari atas ranjang yang  berderit.

Kini, tak ada lagi yang menghalang-halanginya. Amat telah menjadi Rakyat. Oh, Bukan! Atau ia telah menjadi Pemimpin? Ah tidak juga! Mungkin, Pak Amat telah menjadi Raja.

Saduran dari  “Sang Teroris Mental; Pertanggungjawaban Proses Kreatif. Putu Wijaya. Yayasan Obor Indonesia. 2001

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *