Patrick Modiano dan Mahfud Ikhwan

0
118
Sumber: awarewomenartists/kara walker

Once that person had drifted into a novel in much the same way as one might walk through a mirror, he escaped from you forever. (Hlm. 72)

Perjalanan pulang pergi kerja yang sering saya lakukan dengan moda kereta api akhir-akhir ini membuat saya bosan menunggu 1.5 jam sampai 2 jam dalam perjalanan. Di antara bangku-bangku kereta itulah novel ini delapan puluh persen saya selesaikan. Tentu niatnya hanyalah untuk sekedar membunuh waktu selama dalam perjalanan. Beberapa saat sebelum saya memutuskan untuk bawa buku dalam perjalanan kereta, saya lebih banyak mendengar dan melihat percakapan sesama penumpang gerbong.

Mereka, bagi saya adalah orang orang bahagia yang selalu bisa menertawakan setiap nasib yang mereka alami. Lelucon yang tiap hari berganti, pagi ini tentang sabung ayam, sore nanti bisa tentang harga lovebird, esok bisa tentang kereta pagi ini yang teramat cepat berhenti di sebuah stasiun yang tentu sangat menyita waktu mereka untuk sekedar merokok dan sarapan pagi juga kencing dan beol.

Ada seorang penjual gethuk yang bahkan hafal betul tabiat kondektur kereta dan juga polsuska. Ia tahu kapan bisa jualan di kereta secara terbatas karena memang kondekturnya baik atau hanya akan memandangi dagangannya karena polsuskanya galak. Tapi pada sebuah sore seorang polsuska yang galak ia tawari gethuknya, dan diterima lalu dimakan.

“lha iya wong galak’e koyo ngono kuwi yo iso kaliren, tak wenehi gethukku yo dipangan” dengan nada santai sambil mencibir. “kok kaya ndak tahu wae susahnya wong cilik jualan saja”. Sontak kami tertawa, saya sendiri ikutan tertawa mendengar frasa “kaliren”.

Novel yang saya baca di kereta itu, So You Don’t Get Lost in the Neighbourhood tulisan Patrick Modiano  ditulis setelah mendapatkan Nobel tahun 2014. Novel ini bercerita tentang Jean Daragane, seorang sastrawan yang dengan sadar pada pilihannya untuk mengasingkan diri di apartemen. Selama ini tak ada peristiwa apapun hingga suatu sore tiba tiba ada telpon yang dari nada suaranya cukup mengancam kesunyian yang hingga kini sudah ia jalani. Sebuah telpon dari orang yang tak ia kenal Gilles Ottolini dan berkata bahwa ia menemukan buku kartu nama.

Pertemuannya dengan Gilles Ottolini dan seorang perempuan Chantal Grippay di sebuah kafe justeru mengingatkan tentang perempuan lain yang pernah dekat dengannya. Yang terjadi berikutnya adalah perjalanan panjang yang ia tempuh untuk mengenang kembali juga menelusuri jejak di sebuah kota di paris yang mungkin masih bisa dikenali. Perempuan itu bernama Annie astrand, perempuan yang rela mengganti nama depannya sama persis seperti namanya ketika mereka berdua akan pergi ke Roma.

Dikisahkan dengan tempo yang lambat novel ini juga memotret meskipun tidak begitu detil tentang usaha daragane untuk menemui orang orang di sekitar dahulu mereka berdua tinggal, mulai dengan tetangga, teman sekolah, mantan pacar dan juga dokter. Dalam hal ini setiap orang punya kisah masing- masing tentang keluarga Astrand.

Dari cerita seorang dokter Daragane tahu tentang bagian penting keluarga Astrand. Rumah mereka yang berhadapan dengan tempat praktik sang dokter sebelum menjadi suwung dulu adalah bangunan yang cukup bagus dan juga termasuk bangunan awal di daerah tersebut. Penghuninya banyak yang mengiranya sebagai bukan penduduk asli setempat. Suatu malam ketika Jerman menguasai Paris, serombongan tentara datang dan memberondong seisi rumah tersebut. Mungkin tak ada yang selamat kecuali Astrand yang ketika hal itu terjadi pergi dan menghilang dengan Daragane.

i don’t know. They spent several days rifling through the house from top to bottom “ (132) . ada juga anggapan penghuninya aneh “la madrerie was indeed lived in by some strange people…. “(122)

Novel ini mengingatkan saya pada roman Dawuk-nya Mahfud Ikhwan. Keduanya menceritakan bagaimana warga secara brutal menghakimi, dan menyingkirkannya. Mat Dawuk dibakar hidup-hidup bersama rumahnya. Sedang warga meberondong rumah keluarga Roger Vincent – Astrand.

Jean Daragane adalah juga Mat Dawuk yang memilih menjadi lelaki pendiam yang tahu kapan harus menyelamatkan perempuan pada sebuah kesempatan, namun pada akhirnya tak bisa hidup bahagia. Inayatun mati, Annie hilang dan rumornya ditangkap polisi.

Bukankah kalau anda mendengar lagu Silampukau – Puan Kelana anda bisa sedikit ikut merasakan bahwa “Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa, seperti Surabaya.”

Ya sebagaimana di Paris dan juga Rumbuk Randu yang memisahkan nasib hubungan dua anak manusia, entah karena sebab ideologis, norma sosial atau alasan revolusioner yang mengidam-idamkan bisa mengangkat derajat manusia namun justeru membenamkannya dan menguburnya.

 

SHARE
Penulis adalah pembaca buku yang tekun, dan senang berburu kopi. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here