BUKU  

Penuh Inspirasi, Filsafat Hidup Banyu Mili dan Waton Urip dari Tukang Becak

Ilustrasi filsafat banyumili dan watonurip ala tukang becak

Buku ini sekilas seperti majalah foto, atau buku foto. Ya memang ada benarnya, karena sebagian besar isinya adalah foto-foto yang sangat bagus penuh pesan, hasil jepretan Agus Leonardus.

Selain foto, buku ini berisi kisah-kisah para tukang becak yang ditulis penuh makna oleh Sindhunata. Kisah-kisahnya berisi tentang filsafat hidup, cara merawat rasa bersyukur, hidup yang tak selalu mengeluh dan lain sebagainya.

Ilmu waton urip dan banyu mili ini disajikan begitu menyentuh oleh Sindhunata dalam buku ‘esai foto’ berjudul “Waton Urip”. Buku ini makin lengkap dengan desain oleh Ong Hari Wahyu.

Membaca buku ini, kita seperti hendak disentak dengan cerita-cerita orang pinggiran yang begitu bijak menghadapi hidup. Tidak serakah, tidak iri, tidak mudah marah, dan hidup dengan rasa syukur yang luar biasa.

CEK YOUTUBE DI SINI:

Mari kita ikuti kata-kata yang diucapkan Sukiman:

“Apa yang bukan jatah dan rezeki saya, tak bisa saya dapat. Kalau teman lain mendapatkannya, dan saya emosi atau iri, jatah rezeki saya malah lari”.

Sukiman, seorang tukang becak asal Delanggu, Klaten. Ia selalu berusaha memiliki hati yang terang. Baginya, rezeki itu sesuatu yang terang, jadi tidak menyukai sesuatu yang muram. Maksudnya, tukang becak selalu melihat dunia ini dengan kacamata positif. Ada banyak hal yang bisa menjadikan mereka bersyukur, dan rezeki pun akan mendekat.

Baca Juga:  Hormati Bukumu Sebagaimana Kau Menghormati Ilmumu

Pandangan hidup yang juga penuh makna diungkapkan Pak Kliwon, tukang becak di Lempuyangan, Jogja. Pak Kliwon sudah puluhan tahun mbecak.

“Kalau kurang, siapapun akan kurang. Orang kaya juga selalu kurang. Dan dalam hal kekurangan, jangan kita membandingkan dengan mereka yang kelebihan. Tengoklah ke bawah, jangan ke atas. Di bawah kita juga banyak wong kere yang lebih tidak enak daripada kita. Mereka belum tentu bisa makan seperti kita. Maka syukur tukang becak, kita masih bisa makan”.

Mereka menggenggam erat ilmu banyu mili atau air mengalir. Rezeki mereka adalah air mengalir. Meski sedikit tapi terus mengalir dan melewati kerongkongan agar tak sampai kering. Hidup juga mereka jalani dengan ilmu waton urip. Maksudnya bukan asal hidup, tapi menerima hidup tanpa memberontak hidup. Apa yang diberikan hidup, diterima. Apa yang tidak diberikan hidup, jangan diminta.

Dua ilmu itu selalu dipegang oleh para tukang becak. Mereka pun memiliki cara mereka sendiri-sendiri untuk bertahan dalam kubangan kemiskinan materi. Seakan-akan mereka hendak bilang : boleh miskin uang, tapi harus kaya hati. Dan memang benar, itulah yang dipraktikkan oleh para tukang becak.

Baca Juga:  Buku Baru Kumcer Jembatan Tak Kembali Karya Mardi Luhung

Ponirah, tukang becak perempuan tak kalah ‘hebat’. Ia ditinggal mati suaminya yang sakit diserang liver. Tapi ia harus bertahan untuk bisa menghidupi keluarganya, yakni mbecak.

“Untuk cari makan, orang harus berani bekerja. Kalau bisanya mbecak, mengapa tidak, kalau saya memang kuat? Saya hanya punya bahu (tenaga). Punyanya hanya itu, mengapa harus malu,” katanya.

Ponirah setiap hari bangun jam empat pagi. Lalu menanak nasi dan merebus air untuk anak-anaknya. Jam enam ia mulai narik becak. Kini usianya tak muda lagi, dan perempuan ini harus tetap mbecak agar bisa makan.

Tapi, ia tetap tersenyum. Menertawakan kemiskinan yang membelit dirinya dan keluarganya. “Obah kados pundi mawon, kulo niki tetep kepepet, wong kulo niki kere awet” (Berusaha apapun saya tetap terpepet, sebab saya ini kere yang awet). Begitu kata Ponirah. Lalu ia melanjutkan : “Jadi orang kaya itu tidak mudah. Nyatanya orang itu kaya, kok giginya habis semua. Saya melucu ya” katanya sambil tertawa.

Ilmu waton urip dan banyu mili ini disajikan begitu menyentuh oleh Sindhunata dalam buku ‘esai foto’ berjudul “Waton Urip”. Buku ini dilengkapi dengan jepretan foto yang juga banyak berbicara tentang dunia tukang becak. Kita seperti hendak disentak dengan cerita-cerita orang pinggiran yang begitu bijak menghadapi hidup. Tidak serakah, tidak iri, tidak mudah marah, dan hidup dengan rasa syukur yang luar biasa.

Baca Juga:  Orang Jawa Menikmati Ramadhan

Mereka begitu kaya akan filsafat hidup yang membuat mereka bisa tetap tersenyum lapang. Mereka selalu yakin Tuhan memberik rezeki kepada semua manusia. Tak ada manusia yang tak diberi rezeki. Bahkan anggota badan yang genap dan tenaga kuat untuk bisa mbecak juga dimaknai sebagai sebuah rezeki yang sangat besar.

Judul: Waton Urip
Penulis: Sindhunata, Agus Leonardus, Ong Hari Wahyu
Penerbit: Nineart 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *