BUKU  

Rasionalitas Gerakan Mahasiswa

foto: tempo.co

Sejak semula, penulis sudah mengklaim novel ini sebagai persembahan untuk mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya. Berlatar belakang pra-reformasi, Leila mengisahkan kehidupan aktivis mahasiswa Yogyakarta – khususnya yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta — dalam menginisiasi berbagai pergerakan melawan pemerintah yang berkuasa. Pergerakan rasional yang saya pikir tidak ndakik-ndakik amat. Seperti aksi tanam jagung bersama petani di Blangguan Jawa Timur sebagai unjuk protes atas kesewenang-wenangan pemerintah menggunakan lahan produktif warga sebagai tempat latihan gabungan tentara dengan menggunakan mortar dan senapan panjang. Lahan produktif itu digusur dengan buldoser (hlm. 116).

Baca Juga:  Buku Bojonegoro 1900-1942 Karya CLM Penders

Yogyakarta saat itu, kentara betul sebagai basis intelektuil gerakan mahasiswa. Hal ini bisa disimak dari jawaban lugu Biru Laut ketika ditanya Kinan soal keputusannya memilih kuliah di Yogya dan bukan di UNS, “Aku ingin bertemu dan bertukar pikiran dengan anak muda Indonesia yang memilih berkumpul di UGM dan mengutarakan ide-ide besar” (hlm. 23). Aktivis Winatra, Taraka, dan Wirasena terdiri dari mahasiswa dari beragam jurusan yang merasa disatukan oleh cita-cita memperjuangkan Indonesia lebih baik. Kira-kira masih miriplah dengan cita-cita para aktivis mahasiswa saat ini. Para aktivis 90-an itu tentu bukan tipikal mahasiwa yang apapun persoalannya, demo penyelesaiannya. Zaman Soeharto masih berkuasa, mana bisa begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *