Refleksi Sumpah Pemuda dan Sumpah Pemuda Jilid II

Ilustrasi: Pixabay

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”
-Ir. Soekarno-

Pemuda? Apa kabar pemuda Indonesia? Semoga kita pemuda Indonesia tidak lagi ‘sakit’. Semoga sehat-sehat saja. Apalagi menjadi pemuda yang kehilangan ‘kepemudaanya’, jangan sampai lah hal itu terjadi. Siapa itu Pemuda? Pemuda adalah seseorang yang belum tua, tapi sudah tidak lagi anak-anak. Menirukan pendapat anak tetanggaku yang duduk di kelas 4 SD ketika ditanya siapa itu pemuda. Jika mengutip pasal 1 ayat 1 dari UU nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, berbunyi :

“Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun”

Dari pernyataan di atas, sudah sangat jelas bahwa jika seseorang memasuki usia rentang 16-30 tahun otomatis akan mendapatkan status Pemuda. Tapi, siapa dan seberapa penting sih pemuda itu? Kok sampai ada acara khusus ber-lembaga Pemuda; Dinas Olahraga dan Kepemudaan bahkan sampai Menteri Kepemudaan dan Olahraga itu ada. Namun anehnya, kebanyakan kementerian dan dinas-dinas itu jajaran pemimpinnya diisi oleh orang-orang yang usianya sudah lebih dari 30 tahun.  Kemudian juga sampai ada peristiwa yang kebetuan sekali jatuh pada hari ini; Sumpah Pemuda — yang digaungkan sejak tanggal 28 Oktober 1928. Banget pentingnya nampaknya si Pemuda ini.

Kembali kepertanyaan, siapa dan seberapa penting sih Pemuda?

Kalau saya sendiri mengartikan Pemuda mungkin dengan arti yang sedikit berbeda, menurut saya, Pemuda adalah sesorang yang ketika ia mengalami di mana pada fase usia 15-(. . .) sekian tahun atau masa pubertas. Namun, tidak hanya secara biologis melainkan jua secara psikis dan naiknya tingkat kepekaan serta kepeduliannya terhadap keadaan dan isu-isu negara yang selalu datang menghujam, silang sengkarut tak keruan.

Karena, banyak pemuda di negeri ini yang secara biologis ia menyandang status pemuda, namun kepekaan dan kepeduliannya tetap saja tak ada siklus peningkatan (semoga saya salah), sebaliknya, malahan banyak orang yang secara usia ia tidak pantas lagi menyandang status pemuda, sebut saja usianya sudah kepala 4, 5, bahkan sampai kepala 6, namun secara psikis dan  kepekaannya bisa disebut merepresentasikan ‘Jiwa Pemuda.’ Jika kita mengingat kata-kata dari Bung Karno, beliau mengucapkan seperti ini.

Baca Juga:  Api Abadi Mrapen di Grobogan Padam, Bagaimana dengan Kayangan Api Bojonegoro?

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.

Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”

Kata-kata presiden pertama yang lahir di Surabaya ini seakan terkesan hiperbola. Gimana tidak? Masak 1000 orang tua hanya bisa mencabut Semeru dari akarnya, sedangkan yang 10 Pemuda saja bisa mengguncangkan dunia. Tentu ada makna filosofis di dalamnya?

Yang jelas, peran pemuda sangatlah vital dalam negara ‘kala itu’.

Dan, satu  lagi, seperti kita ketahui bersama, negeri ini berdiri karena Pemuda.

Sekarang, kita intip pemuda di zaman orde paling baru ini, iya di era reformasi. Pertanyaannya; Apakah pemuda zaman sekarang ini masih gahar seperti Pemuda terdahulu? Atau lebih garang dari pada Pemuda yang terdahulu? Atau sudah krisis, bahkan kegarangannya habis, atau yang saya khawatirkan  mereka tak pernah kehilangan kegarangannya sebagai pemuda, karena mereka tak pernah mempunyai ‘Jiwa Kepemudaan’.

 

Iya , mungkin seperti saya sebut di atas, Pemuda saat ini “seperti” telah kehilangan kepemudaannya. Kalau pemuda dulu, sering-sering menulis, melawan dan diskusi namun untuk pemuda masa kini hobi mereka adalah , SelfieNgrumpi, Rokok dan Ngopi.

Indonesia Krisis Pemuda?

Penulis  saat menulis ini memang sudah sangat ngantuk dan sayah usai bikin teban pinehan di sawah seharian, jadi agak ngelantur. Terkait judul tulisan ini tentang ‘Sumpah Pemuda’, tampaknya sekarang hanya menjadi sebuah ajang selebrasi. Terutama di kalangan pemuda itu sendiri, yang biasanya tampil dalam balutan jas dengan bordiran logo, yang selalu didengung-dengungkan menjadi agent of change. Hari sumpah pemuda, tak lebih menjadi ajang selebrasi.

Apalagi diperparah dengan kemunculan-kemunculan ‘Selebritis berwajah Aktivis’. Mereka menyuarakan suara Rakyat dan milih turun ke jalan raya dengan tangan kiri mengepal ke atas sebagai bentuk perlawanan dan tangan kanannya memegang megaphone serta mulutnya berorasi sampai berbusa, bukan karena ingin refleksi ataupun kontribusi, melainkan ingin bahkan butuh pengakuan dari teman-teman dan wartawan untuk disebut ‘aktivis’. Walaupun tulisan-tulisan di papan demo mereka, teatrikal mereka, gema suara mereka mengatakan refleksi, mengatakan peduli, mengatakan solidaritas, mengatakan kepemudaan. (semoga saya salah 2).

Baca Juga:  Sihir Makoto Shinkai dalam 5 cm Per Second

Kebanyakan dari gerakan mereka adalah agar bisa masuk koran, majalah, lebih-lebih masuk staisun TV kancah nasional lalu terkenal à viral?

Belum lagi, geliat Pemuda yang semakin memudar. Kalau Pemuda dulu — jika orang jawa menyebutnya; Otot Kawat Balung Wesi, sekarang menjadi Gigi kawat sukanya selfie

Bukannya di sini saya benci Pemuda, karena saya sendiri tak lebih adalah seorang pemuda dan mencintai pemuda dan kepemudaan, yang tanpa saya sadari kepemudaan saya juga  semakin terdegradasi. Atau tidak  jua, saya menilai Pemuda di sini secara subjektif. Karena di luar sana, mungkin dan barangkali pasti ada masih ada pemuda-pemuda yang benar-benar Pemuda, walupun hanya minoritas.

Tapi, bisa kita lihat sendiri pemuda-pemuda Indonesia mayoritas. Secara umum, memang keadaanya seperti itu. Kalau saya boleh memberi sebutan lagi, Pemuda Indonesia pada saat ini sedang meng-impotensi-kan diri. Iya Impoten. Gak iso ngaceng! Tak terangsang sama sekali dengan keadaan-keadaan yang sebenarnya bisa membuatnya ‘nafsu & bergairah’. Mungkin perlu adanya obat kuat anti loyo.

Isi Sumpah Pemuda

Hemmm, , , sejenak kita heningkan cipta, untuk mengenang dan mendoakan para Pemuda pendahulu kita, seraya kita mengingat isi dari sumpah Pemuda.

  “Kami putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia

  Kami putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu    Tanah      air Indonesia

  Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa                    Indonesia”

3 butir di ataslah yang diucapkan sebagai sumpah oleh para Pemuda Indonesia yang sebelumnya diadakan kongres Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (P3I) yang diusulkan oleh Mr. Prof. Moh. Yamin. S.H. Sebelum 3 butir ini menjadi konsensus bersama, Moh. Yamin mengutarakan 5 hal yang dijadikannya latar belakang terbentuknya Sumpah Pemuda yaitu:

  1. Sejarah
  2. Bahasa
  3. Hukum adat/Toleransi
  4. Pendidikan
  5. Kemauan

5 hal di ataslah yang melatabelakangi sumpah Pemuda yang akhirnya menjadi cita-cita bersama yang tak lain adalah kemauan untuk Merdeka.

Baca Juga:  Kopi dan Serangkai Kekhawatiran Tentangnya; Esai R.K Narayan

Tentu, 5 hal tersebut atau 3 butir isi dari Sumpah Pemuda jika kita jelaskan secara komprehensif sangatlah mendalam. Dan butuh 1 kardus rokok serta ribuan cangkir kopi untuk menjadi teman kita mengurai isi dari sumpah itu. Yang pasti, kelima hal tersebut menggambarkan sifat ke-egaliter-an. Sama rata-sama rasa, senasib seperjuangan.

Di sini, penulis ingin mengajak atau sekedar mengingat-ngingat bersama bagi para pemuda untuk sama-sama kita meng-aktualisasi-kan diri kita menjadi pemuda yang benar-benar pemuda. Dengan cara apa? Kamu sudah tahu jawabannya.

Oh ya, hampir lupa, saat beberapa hari menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-87, yakni pada tahun 2015 silam, penulis sempat membuka web dari RRI (Radio Republik Indonesia), dalam web itu menyebutkan jika muncul dan beredar Sumpah Pemuda jilid II.

Adapun bunyi Sumpah Pemuda jilid II Sebagai berikut:

  1. Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, tetap setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, mewujudkan Indoneisa sebagai bangsa yang bermartabat, Demokratis, Adil dan Sejahtera
  3. Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, membangun Indonesia dengan memuliakan lautnya dan berdiri teguh didaratannya dengan pembangunan yang berwawasan cinta lingkungan.

Adanya sumpah Pemuda jilid II ini bukan bermaksud mengkhianati atau tidak mengakui terhadap sumpah pemuda yang pertama. Penulis tak mencari hal ini lebih mendalam, sempat sih, tapu udah lupa. Hanya saja, kemudian, menilai sumpah pemuda jilid II ini adalah batasan atau gambaran maupun cara/metode  secara umum untuk kita merefleksikan Sumpah Pemuda yang pertama. Untuk secara sinkron atau spesifiknya, saya kembalikan kepada para pembaca yang budiman. Kerena bentuk Refleksi pun sangat variatif.

Iyo rek, mosok 94 tahun  dari 1928-2022 mung ngucap sumpah tok. Kapan pembuktiane? Wes dibuktikne tenan?

Jangan diam, apalagi mendiamkan! Kerena yang demikian  hanya semakin memperpanjang barisan perbudakan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *