Sapaan Pohon Sawo Kecik

0
252
Ilustrasi rumah/Sumber: Unsplash

Fiksi (Bagian 2) – Minggu pagi, waktunya lari-lari kecil mengelilingi alun-alun kota. Udara masih bersih. Daun-daun serasa melambai-lambai menguarkan aroma wangi. Sinar matahari merah menerobos di sela-sela ranting.

Sejak pemerintah kota menerapkan program larangan kendaraan bermotor di sejumlah jalanan kota pada minggu pagi, puluhan orang mendatangi alun-alun. Ada yang berjalan, berlari, dan ada yang sekadar nongkrong sambil menikmati kudapan pagi: serabih dan secangkir kopi. Minggu pagi makin ramai di kota.

Aku juga demikian. Minggu pagi ini aku berada di antara puluhan orang di alun-alun kota. Ikut menikmati suasana pagi kota yang sudah banyak berubah. Makin bersih, tapi makin modern. Dan aku tak begitu suka.

Dulu, masjid agung Rumah Kedamaian di sisi barat alun-alun putih bersih dan mengesankan ketuaan sebuah kota. Menara putih bersih menjulang. Namun kini bangunannya dipoles baru dan kehilangan aura tuanya. Menaranya juga diganti dengan desain baru, meliuk-liuk seperti ular melilit mangsanya.

Aku mengayuh sepeda tua merek Gazelle yang masih lengkap peneng dan berkonya. Melintasi jalanan beraspal dengan pohon-pohon besar rindang di sisi kiri dan kanan. Konon, di masa lalu pohon-pohon di pinggir jalan adalah pohon asam jawa yang kuat dan kokoh. Tapi kemudian diganti dengan aneka jenis pohon seperti akasia  dan ketapang kencana (terminalia mantaly). Bahkan, lucunya, kini di sela-sela pohon besar ditanami bunga bougenville yang mudah berkembang tapi jarang dibersihkan.

Setelah melintasi pertokoan kampung china, lalu kampung arab, aku menuju ke barat melintasi persawahan hijau yang tak seberapa luas. Di sisi kanan-kiri jalan banyak pagar tanaman luntas. Tujuanku jelas: Perpustakaan Prapanca.

Sepeninggal Pak Mukalim, perpustakaan ini sepi. Anak-anaknya tak begitu suka buku. Pak Mukalim punya 3 anak. Dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota. Dia tinggal bersama anak laki-lakinya yang berusia 25 tahun. Sayang, anak laki-laki yang menjadi tumpuan hidup Pak Mukalim pernah depresi dan hingga kini tak bisa kembali normal. Ia tak kawin.

Kini, perpustakaan itu dikelola, ah lebih tepatnya cuma ditunggui, oleh anak laki-lakinya itu. Meski tak bisa mengelola perpustakaan dengan baik, anak laki-laki Pak Mukalim sangat ramah. Aku senang ngobrol dengannya. Hanya sesekali ia marah-marah sendiri, atau kadang murung sepanjang hari, yang mungkin sisa depresi masa lalu. Pada saat-saat demikian, aku memilih tak mengganggunya.

“Assalamu’alaikum,” sapaku sesampai di depan perpustakaan.

“Wa’alaikumsalam” jawabnya dari dalam perpustakaan sambil melempar senyum. Aku memaknai dia sedang enak hati.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon sawo kecik yang banyak tumbuh di halaman, lalu bergegas masuk ke perpustakaan. Pohon sawo kecik ini mungkin sedikit yang tumbuh di kota kami. Tak banyak yang menanam pohon ini. Padahal buahnya enak.

Pohon sawo kecik berbuah lebat di depan perpustakaan Prapanca punyanya Pak Mukalim. Kalau sore hari, anak-anak ramai berkerumun di sana. Pak Mukalim nggak pernah melarang sawo diambili anak-anak. Bebas saja. Anak-anak itu kadang berbaik hati memberi satu dua buah sawo kepadaku. Hmm, enak.

Tak ada perubahan berarti sejak Pak Mukalim meninggal sebulan lalu. Buku-bukunya masih tertata rapi di rak kayu jati. Punggung buku masih ditata dengan posisi benar: logo penerbit ada di bagian bawah. Semua tampak demikian. Sehingga enak di pandang mata.

“Bapak sering cerita tentang kamu,” katanya.

“Cerita apa?”

“Ya macam-macam. Bapak selalu lebih tahu tentang buku dan para pecintanya,” katanya lagi.

Aku jadi penasaran, apa yang diceritakan Pak Mukalim kepada anaknya. Karena sewaktu dulu ngobrol dengannya tak banyak yang diceritakan tentang dirinya, kecuali buku-bukunya. Dia juga tak banyak bertanya ini itu kepadaku.

“Bapak meninggalkan surat yang ia tulis sewaktu masih hidup. Surat untukmu. Dulu bapak menunggumu. Tapi ia yakin kamu nggak bakal datang, jadi bapak menulis surat untukmu,” katanya.

Aku diajak ke lantai 2 yang belum pernah kumasuki. Perkiraanku ternyata keliru. Lantai 2 bukanlah rumah, tapi perpustakaan yang koleksinya luar biasa hebat. Ada satu ruang yang isinya cuma buku-buku penulis besar saja. Aroma buku menyeruak. Khas kertas lusuh bercampur debu dan lembab.  Di ruang itu juga terdapat satu meja dan satu kursi. Kursi rotan yang sudah berumur. Ada mesin ketin merek Brother type Deluxe 570 TR.

Ke ruang itulah aku dibawa masuk. Selembar kertas yang dilipat disodorkan kepadaku yang kuterima dengan perasaan berdebar. Apa kira-kira yang ditulis Pak Mukalim? Apa tentang rahasia buku-bukunya? Atau berisi perjalanan hidupnya? Tapi apa peduliku dengannya? Toh aku bukan siapa-siapanya dia.

Yang dikatakan sebagai surat, ternyata cuma berisi daftar buku. Aku tak tahu maksudnya apa. Setelah kubaca lengkap, namaku tak ada satupun disebut di sana. Kenapa ia bisa menyebut itu surat untukku? Atau jangan-jangan ini cuma imajinasi dia saja akibat derpresinya dulu?

Aku tak tahu persis. Mungkin lebih baik nanti saja aku cerita tentang surat, eh oret-oretan dari Pak Mukalim tersebut.

Kini aku ingin membaca buku koleksi Pak Mukalim. Aku menuruni tangga, kembali ke lantai 1 dan berada di depan rak buku setinggi 3 meter. Aku mengambil buku Watonurip. Buku tentang tukang becak yang ditulis oleh Sindhunata. Ah bukan buku foto, melainkan buku filsafat. Isinya daleeemmm banget.

Mau tahu isi bukunya? (Bersambung)

  

SHARE
Penulis sedang mencoba menjadi pembaca yang baik. Tidak suka kopi tapi suka bercerita ngalor-ngidul. email: kajaralip@gmail.com (bukan kajaralit sesuai namanya, hehe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here