Saya Menunda Liburan ke Luar Kota karena Tertarik Datang ke Pasar Dadakan Desa Klampok

SABTU besok saya berencana liburan ke luar kota. Baru saja hendak pesan tiket kereta, tiba-tiba ada seorang teman yang meminta saya datang ke desa tempat tinggalnya. Teman saya ini cerita bahwa di desanya akan ada kegiatan menarik bernama pasar dadakan, besok Sabtu, 7 September, pukul empat sore hingga selesai.

Nama desa teman saya itu adalah Klampok, ikut Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Setelah bicara cukup panjang melalui panggilan whatsapp dengan teman saya itu mengenai pasar dadakan di desanya, saya memutuskan untuk menunda liburan ke luar kota.

“Pasar Dadakan?” tanya saya memastikan. Soalnya saya tidak begitu mendengar jelas karena di sekeliling saya sedang ramai orang berdebat tentang harga beras yang baru saja naik lagi.

Kepala Desa Klampok dan panitia (ketua RT 5) berkeliling mengunjungi lapak pedagang. Kegiatan ini merupakan wujud dari gagasan para ketua RT di Desa Klampok

Dinamai pasar dadakan, kata teman saya itu, karena memang mendadak jualannya. Tempatnya juga dadakan. Ada orang yang kesehariannya suka pengajian di hari itu dia mendadak jualan tahu isi, ada tukang kayu mendadak jualan mie ayam, ada naib mendadak jualan madu, ada tukang rias mendadak jualan pop corn, ada wartawan yang mendadak jualan daster dan banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga:  Tuhan Berwarna Coklat

“Tapi nggak berarti penjualnya dadakan semua lho. Dan bukan berarti penjual dadakan itu nggak pro,” jelas teman saya itu meyakinkanku.

Pasar Dadakan yang akan digelar Sabtu besok ini adalah yang ketiga. Kegiatan ini merupakan  wujud dari gagasan para ketua RT di Desa Klampok. Desa kecil yang hanya punya tujuh rukun tetangga ini memang bisa dibilang kurang begitu dikenal. Banyak orang luar desa yang tidak tahu mana itu Desa Klampok. Saya pun juga demikian. Saat pertama kali ke desa ini beberapa tahun lalu saya bertanya ke orang sebelum memasuki desa ini. Setelah menuruti petunjuk orang saya bertanya lagi ke orang. Ternyata kebablasan. Ini saking kecilnya desa ini.

Sama halnya dengan artis, desa harus punya kreativitas agar dikenal. Nah pasar dadakan ini adalah gagasan para ketua RT agar orang-orang bisa kenal Desa Klampok. Apa yang dikenal? Ya apa saja. Ada banyak yang bisa dikenal di desa; orangnya, alamnya, keunikannya, ketangguhan penduduknya, kerukunannya, kebahagiannya, dan sebagainya.

Baca Juga:  Gagal Coba Lagi! Menyerah Bukan Pilihan

“Masih ingat jalannya kan?” tanya teman saya.

“Lupa. Coba kasih petunjuk lagi!” pinta saya.

“Dari arah Bojonegoro ke timur arah Babat-Surabaya kira-kira 2 kilometer, sampai ada pintu besar tulisannya… Pintu atau apa ya namanya ya… Pagar… Apa ya?”

“Gapura?”

“Oh, iya… gapura. Gapura di kiri jalan. Besar gapuranya. Tulisannya Pasar Sendang Mojo Deso. Nah itu sampean jalan ke utara terus kira-kira 500 meter ada gapura tulisannya Desa Klampok. Nah itu sampean sudah masuk Desa Klampok. Jalan terus ke utara sampai ada ramai-ramai pedagang-pedagang di pinggir jalan. Ada gapuranya lagi kok, tulisannya Pasar Dadakan Desa Klampok.”

Saya berterimakasih pada teman saya yang menjelaskan dengan detail petunjuk arah menuju desa Klampok.

Saat mengetahui bahwa yang menggagas dan mengeksekusi kegiatan ini adalah ketua RT, saya mulai tertarik. Menurut saya ketua RT inilah tulang punggung Indonesia. Rukun Tetangga adalah organisasi terkecil tetapi terpenting di lembaga pemerintah republik ini, yang langsung berhadapan dengan aneka ragam masalah dan hajat manusia Indonesia. Ketika ketua RT sudah bergerak maka jangan dianggap sepele dan remeh. Tujuh ketua RT Desa Klampok adalah orang-orang luar biasa. Saya yakin mereka berjuang dengan berdarah-darah menyelenggarakan kegiatan ini. Meski tidak ada anggaran yang pasti, mereka tetap semangat dan tulus. Saya tahu itu karena bapak saya adalah seorang ketua RT. Saya jadi ingat beliau. Bapak saya pensiunan tentara. Tapi saya tahu betul beliau kelihatan lebih bersemangat dan punya wibawa perjuangan ketika menjalankan tugas sebagai ketua RT. Saya bangga pada ayah saya ketika melihat dia malam-malam menengahi warganya yang bertengkar gara-gara masalah sampah pohon. Saya bergetar melihat ayah saya membuat nasi goreng untuk warganya yang sedang ronda malam. Saya terharu melihat ayah saya terdiam dan tabah mendapat teguran dan hujatan warga yang merasa diperlakukan tidak adil. Aduh malah saya curhat tentang ayah saya.

Baca Juga:  Mengantar ke Penulisan Feature

“Gimana, sampean datang kan?” tanya teman saya di seberang telepon membuyarkan lamunan saya.

“Iya. Iya. Insya Allah!”

“Alhamdulillaah!” jawab teman saya.

Saya termenung sejenak. Memang, bagi sebagian orang, Insya Allah bukan berarti pertanda bakal tidak terjadi. Insya Allah lebih dari itu. Terjadi atau tidak terjadi, Tuhan lebih bijak menentukannya. Rencananya terbaik. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *