Story  

Stephen Duneier dan Cara Mewujudkan Mimpi Besar dengan Tindakan-Tindakan Kecil

Gambar: Stephen Duneier dan sulaman terbesar di dunia

Tulisan A.S Laksana dan dimuat pada akun Facebooknya pada 9 Januari 2022.

Di atas panggung, dengan intonasi dan cara membawakan diri yang rileks, dia memulai ceramahnya dengan sebuah tantangan: “Tolong acungkan tangan, berapa banyak dari kalian yang yakin dapat menggambar potret Brad Pitt dengan pensil dan secarik kertas?”

Stephen Duneier, 54 tahun, adalah pria menakjubkan, setidaknya itu pandangan saya setelah menyaksikan video presentasinya di TEDxTucson, Januari 2017, berjudul ‘How to Achieve Your Most Ambitious Goals’. Dia mendefinisikan dirinya seperti ini: tidak punya bakat istimewa dalam hal apa pun, tidak mampu fokus lebih dari sepuluh menit, dan prestasi akademiknya konsisten pada angka C dan C- sejak ia mulai masuk sekolah hingga tahun kedua kuliah.

Dia ingin seperti teman-temannya yang bisa tahan membaca buku berjam-jam, apalagi pada waktu menjelang ujian, dan berusaha keras untuk itu. Dia gagal. Dia tidak pernah sanggup duduk saja menghadapi buku lebih dari sepuluh menit.

Akhirnya dia menyerah dalam upayanya menjadikan diri senormal teman-teman kuliahnya. “Saya memutuskan bahwa saya tidak akan sanggup melakukannya,” katanya. Tetapi dia ingin berubah. Dia pikir dia harus mengubah pendekatannya, dan untuk itu dia membuat penyesuaian-penyesuaian marjinal.

Jika ada tugas membaca lima bab buku, misalnya, dia tidak akan menganggapnya lima bab, bahkan tidak juga satu bab. Dia mencacahnya menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dia tangani dalam lima sampai sepuluh menit—sesuai kesanggupannya untuk fokus. Jadi, dia akan membaca hanya tiga atau empat paragraf sekali duduk.

Setelah itu dia akan bangun dari kursi, bermain video game, menggambar, atau melakukan apa saja, dan kembali beberapa menit kemudian untuk melanjutkan membaca sepuluh menit lagi. Bahkan tidak harus ke subjek yang sama, tetapi untuk tugas lain yang hanya membutuhkan fokus lima hingga sepuluh menit.

Sejak saat itu, sampai lulus, dia menjadi mahasiswa dengan nilai A dan menjadi mahasiswa paling berprestasi pada tiap semester dan melanjutkan ke salah satu program pascasarjana terbaik di dunia untuk keuangan dan ekonomi. Prinsipnya adalah mencacah urusan-urusan besar dan kompleks menjadi tugas-tugas kecil yang lebih mudah dikelola dan menikmati prosesnya, membuat peningkatan-peningkatan kecil sepanjang jalan, dan itu berarti meningkatkan peluang keberhasilan.

“Saya selalu melakukannya seperti itu, dan pendekatan yang sama melahirkan hasil yang sama.”

Dia menggunakan pendekatan tersebut saat mulai berkarier di perusahaan sekuritas Credit Suisse, lalu menjadi kepala perdagangan opsi mata uang global di Bank of America, lalu kepala pasar global untuk negara-negara berkembang pada AIG Internasional. Dan akhirnya dia mendirikan dua lembaga hedge fund yang memenangi penghargaan.

Baca Juga:  Kemegahan Puro Mangkunegaran Didirikan Pangeran Mas Said dengan Nilai Sejarahnya

Pendekatan yang dia lakukan mengingatkan kita pada pendekatan serupa oleh Dave Brailsford saat ditunjuk menjadi direktur performa British Cycling pada 2003. Hampir seratus tahun tim balap sepeda Inggris tidak pernah memenangi kejuaraan apa pun. Satu medali emas Olimpiade terakhir mereka adalah pada 1908. Dalam turnamen akbar Tour de France, pembalap Inggris lebih sengsara lagi; sudah 110 tahun tidak ada dari mereka yang menang.

Brailsford melakukan perbaikan-perbaikan marjinal pada tim balap sepeda dan lima tahun kemudian mereka merajai baik balap sepeda jalan raya maupun sirkuit dan merebut 60 persen dari total medali yang diperebutkan di Olimpiade Beijing 2008. Dalam rentang waktu dari 2007 hingga 2017, para pembalap sepeda Inggris betul-betul merajai. Mereka memenangi 178 kejuaraan, termasuk 66 medali emas Olimpiade dan Paralimpik, dan lima kemenangan Tour de France.

Menguasai Bahasa Jerman

Setelah keberhasilan studi dan karier profesionalnya, Stephen Duneier berpikir bahwa pendekatannya, yang bekerja bagus untuk urusan sekolah dan pekerjaan, mestinya bagus juga untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi. Maka, pada 2001, ketika usianya 33, dia mulai menetapkan tujuan ambisius untuk dirinya sendiri: Dia ingin menguasai bahasa Jerman.

Setiap hari dia berjalan kaki menuju tempat kerja dari ujung Hyde Park ke ujung lainnya di London, 45 menit pergi dan 45 menit pulang. Itu berarti satu setengah jam sehari, tujuh setengah jam sepekan, tiga puluh jam sebulan, 360 jam setahun. Dan dia tersadar: “Saya menggunakan 360 jam setahun hanya untuk mendengarkan musik di iPod saya.”

Dalam perjalanan pulang kerja hari itu dia berhenti di sebuah toko dan membeli 33 CD pertama Pimsleur program belajar bahasa Jerman dan memindahkan isi cakram-cakram itu ke dalam iPodnya. Kini dia tidak lagi mendengar musik saat berjalan kaki berangkat dan pulang kerja; dia belajar bahasa Jerman.

“Tetapi saya tahu bahwa saya bukan orang yang disiplin,” katanya, “dan saya tahu cepat atau lambat saya akan beralih dari bahasa Jerman ke musik lagi.”

Untuk mencegah kemungkinan itu, dia hapus semua musik di iPodnya. Itu membuat dia hanya punya satu opsi, ialah mendengarkan pelajaran bahasa Jerman. Sepuluh bulan kemudian dia telah mendengarkan 99 CD program bahasa Jerman, dan masing-masing cakram dia dengarkan tiga kali.

Dia melanjutkannya dengan kursus intensif bahasa Jerman di Berlin selama 16 hari. Ketika kursus selesai, dia undang istri dan anak-anaknya dan mereka berjalan-jalan dan dia berbicara bahasa Jerman dengan orang-orang Jerman yang mereka temui. “Anak-anak saya melongo kagum,” katanya.

Baca Juga:  Indonesia Adalah Gudangnya Penulis dan Pembaca Serta Pentingnya Andil Akademisi

Dia membuat penyesuaian kecil pada aspek rutin sehari-harinya, penyesuaian marjinal, mengganti musik yang dia dengarkan dengan pelajaran bahasa Jerman, dan sampai sekarang dia tetap menguasai bahasa Jerman.

Apa Selanjutnya?

Dia tidak mau berhenti. Maka, dia kembali bertanya: Apa tujuan ambisius lain yang bisa diwujudkan dengan penyesuaian marjinal? Apa hal-hal besar yang bisa dicapai dengan hanya membuat penyesuaian kecil pada rutin keseharian?

Dia mendapatkan lisensi balap mobil, belajar menerbangkan helikopter, panjat tebing, terjun payung, dan dia juga belajar menerbangkan pesawat secara aerobatik. Dan pada 2007 dia mengembalikan berat badannya yang saat itu kelebihan 12 kilogram; dia melakukannya dengan menyelesaikan pendakian 33 jalur ke pegunungan Santa Barbara. Dan dia melakukannya seperti biasa: satu langkah, dua langkah, tiga langkah….

Dua tahun kemudian, pada 2009, dia menetapkan lagi tujuan yang sangat ambisius. Dia ingin membaca 50 buku dalam setahun. “Itu sangat ambisius untuk seorang pria yang sampai hari ini masih tetap tidak bisa fokus pada apa pun selama lebih dari sepuluh menit,” katanya. “Tetapi jika anda bisa membaca satu kata, anda bisa dua kata, bisa tiga, bisa satu kalimat, bisa satu paragraf, bisa satu bab, bisa satu buku, sepuluh buku, tiga puluh buku, lima puluh buku.”

Dia berhasil, 50 buku dalam setahun. Dan dia tidak mau berhenti. Pada 2012, dia menjadi lebih ambisius; dia menetapkan 24 resolusi tahun baru—12 resolusi untuk berbuat amal tanpa harus mengeluarkan uang dan 12 resolusi untuk belajar hal-hal baru. Namun, itu bukannya tanpa kegagalan.

“Saya mencoba mendonorkan darah, dan mereka menolak saya karena saya pernah tinggal di Inggris. Saya mencoba menyumbangkan sperma; mereka menolak saya karena saya terlalu tua. Saya mencoba menyumbangkan rambut, dan ternyata tidak ada yang menginginkan rambut beruban.”

Dua belas resolusi untuk belajar hal-hal baru dia lakukan, mulai dari mengendarai sepeda roda satu, berjalan dengan egrang, sampai menggebuk drum.

Mencatatkan Rekor di Guiness Book

Istrinya menyarankan dia belajar merajut setelah dua belas resolusi belajarnya terpenuhi. Dia tidak begitu bersemangat dengan ide itu; dia tidak suka merajut. Tetapi, suatu hari, dia duduk di bawah pohon eukaliptus setinggi 40 kaki dan tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa pohon itu mungkin akan tampak bagus jika dibungkus dengan benang. Dia mencari-cari informasi di Google dan mendapati bahwa orang-orang lain ternyata melakukan hal serupa, disebut yarnbombing, yaitu membungkus struktur-struktur publik dengan benang.

Pada waktu itu, hari yarnbombing internasional tahunan yang kedua tinggal 82 hari lagi. Maka, dalam 82 hari dia merajut di mana-mana—di sela-sela rapat, di lantai bursa, di pesawat, di rumah sakit, di mana pun. Satu tarikan benang untuk satu waktu. Dan 82 hari kemudian dia berhasil membungkus batang dan dahan dan ranting-ranting eukaliptus itu dengan rajutannya.

Baca Juga:  KKN Unugiri Kelompok 37 Kembangkan Alat Pertanian Tepat Guna Bagi Petani di Sukosewu

“Saya terus merajut… dengan proyek yang lebih besar dan lebih ambisius yang membutuhkan lebih banyak keterampilan teknik.”

Dia membungkus banyak struktur termasuk delapan belas batu besar di Hutan Nasional Los Angeles dan rumah sakit anak di Tucson. Dan kemudian dia menetapkan satu proyek ambisius untuk mencatatkan rekor di Guiness Book dalam urusan menyulam. Dia berniat membuat sulaman terbesar di dunia, dan dia melakukannya, sedikit demi sedikit, satu tarikan benang untuk satu waktu, selama 2 tahun, 7 bulan, 17 hari.

Selama waktu itu, dia mengerjakan lebih dari setengah juta tarikan benang sulam, menggabungkan lebih dari 30 mil benang, dan menjadi pemegang rekor dunia Guinness untuk sulaman terbesar.

Untuk semua proyek ambisius yang telah dia wujudkan, Stephen Duneier hari ini tetaplah orang yang sama dengan sebelumnya, orang yang tidak sanggup duduk tenang dan fokus lebih dari sepuluh menit. Tantangannya di awal ceramah tentang menggambar foto Brad Pitt dengan pensil dan secarik kertas adalah tantangan dari seseorang yang meyakini bahwa semua orang bisa melakukannya.

“Saya akan memberi anda keterampilan yang diperlukan untuk menjadi seniman kelas dunia. Dan untuk itu, yang diperlukan hanya waktu 15 detik.”

Lalu dia memperlihatkan gambar kotak abu-abu sebesar layar.

“Setiap orang di antara kita bisa membuat kotak abu-abu,” katanya. “Jika bisa membuat satu kotak, bisa dua, bisa tiga, sembilan…. Artinya, bisa menggambar foto Brad Pitt.”

Lalu ia memperkecil gambar kotak abu-abu di layar, terus memperkecilnya, sampai di layar akhirnya terpampang foto Brad Pitt, yang tersusun dari banyak sekali kotak abu-abu.

Chuck Close, salah satu pelukis berpenghasilan tertinggi di dunia selama beberapa dekade, adalah orang yang menciptakan karya seninya dengan teknik tersebut. “Anda lihat,” kata Stephen, “apa yang membuat kita mencapai impian paling ambisius tidak ada hubungannya sama sekali dengan keterampilan atau bakat istimewa yang kita miliki. Ia lebih berkaitan dengan bagaimana kita mendekati masalah dan membuat keputusan untuk menyelesaikannya.”*

Gambar: Stephen Duneier dan sulaman terbesar di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *