Sumber Kencono dan Goyang Dangdut Koplo

0
1849
foto: kaskus

Anda sering naik bus Sumber Kencono rute Surabaya – Jogja? Jika iya, tentu akrab dengan dangdut koplo. Karena hampir semua bus dilengkapi dengan audio video yang seringkali suaranya di atas rata-rata. Tak peduli siang ataupun malam.  Dengan sopir yang (kata teman-teman saya) jarang nginjek rem itu, dangdut koplo seperti obat penawar mabuk perjalanan.

Sebenarnya nggak cuma Sumber Kencono saja bus yang merajai jalanan Surabaya – Jogja, melainkan ada Mira, Eka, dan Sumber Slamet yang seduluran dengan Sumber Kencono. Dan semua punya kesamaaan: pecinta dangdut koplo. Sepanjang perjalanan, musik yang akrab di telinga pasti dangdut koplo.

Saya termasuk pelanggan bus itu. Cuma saya sebatas Ngawi – Joga saja. Hampir tiap akhir pekan saya menempuh rute tersebut dengaan bus yang jarang melaju pelan. Kalau sampai jalannya pelan, malah banyak penumpang yang heran dan terlontarlah tanya “Ada apa nih?” Karena biasanya pasti lari kencang sekencang-kencangnya. Para penumpang seperti sudah terbiasa dengan kondisi itu. Bus lari kencang, dangdut koplo bersuara lantang. Klop. Anda bisa membayangkan kan?

Soal bus yang lari kencang itu, saya sudah terbiasa banget. Tapi terkadang merasa kasihan dengan penumpang yang belum terbiasa. Pernah ada ibu-ibu naik dari Jogja turun di Sragen. Bus yang lari kencang sering oleng ke kanan, oleng ke kiri, ngerem mendadak, ngegas lagi dan terus begitu. Si ibu berpegangan bangku erat-erat. Ia pun terus berdzikir “Astaghfirullah, Astaghfirullah, ya Allah, ya Allah, Astaghfirullah. Piye ki nak? Ya Allah.” Orang di sampingnya hanya bisa menyahut “sabar bu sabar!”.

Saya jadi ingat guyonan Gus Dur tentang sopir bus yang nanti banyak masuk surga. Lho kok bisa? Karena banyak penumpangnya yang berdzikir saat bus balapan. Hmmm….

Tapi sensasi menumpang bus Sumber Kencono bukan hanya aksi sopirnya yang super berani, tapi juga lagu dangdut koplo yang disetel kencang sekencang laju busnya. Bagi yang nggak biasa dengerin lagu dangdut mau nggak mau akan terbiasa juga. Apalagi jika sering naik bus ini. Boleh dibilang, bus Jogja – Surabaya ini ikut mempopulerkan para penyanyi seperti Nella Kharisma dan Via Vallen. Karena dua biduan ini selalu menjadi artis penghibur di perjalanan.

Saya sendiri hampir jarang memutar lagu dangdut. Tapi lantaran hampir tiap  akhir pekan naik Sumber Kencono, akhirnya akrab juga dengan lagu-lagu dangdut koplo. Bagaimana tidak, wong disetel kenceng banget. Lagu-lagu seperti Jaran Goyang, Bidadari Keseleo, Kelingan Mantan, hingga lagu Suket Teki sering terdengar di telinga.

Ya, dangdut koplo memang jadi teman para pengguna bus, menjadi kawan di perjalanan. Amati saja, jarang banget bus memutar lagu-lagu kenangan atau lagu barat. Dangdut koplo adalah lagu rakjat jelata yang kemudian merambah ke level lebih atas. Dangdut koplo menjadi begitu akrab dengan kehidupan masyarakat bawah. Lirik-liriknya kadang nakal,  selengekan, tapi banyak dialami oleh masyarakat bawah. Sehingga lagu-lagu dangdut koplo banyak dihafal oleh semua kalangan. Sebagai bagian dari rakjat jelata, saya kagum kepada pencipta lagu-lagu tersebut. Sampai-sampai pengamen di bus pun memilih lagu juga tak jauh-jauh dari dangdut koplo.

Coba kita amati lirik lagu Bidadari Keselo yang populer dinyanyikan Nella Kharisma. Begini penggalan liriknya: Untumu ono kawate, ono lomboke, ono kangkunge. Yen mrenges ketok aslimu. Ketok wagumu. Ketok mrongosmu. Bidadari keseleo mekso-mekso banget nganggo kawat abang ijo. Pupure medok mlerok kandel separo. Dowo untune koyo sungai bengawan solo. Bidadari keseleo. Ngempet ngempet banget dadi pengen due bojo.

Lirik lagu itu sebuah kritik atas penampilan cewek yang memaksakan diri menggunakan kawat gigi. Lebih umum lagi sebuah kritik pada makna kecantikan yang hendak diburu cewek-cewek masa kini. Karena seharusnya cantik itu nggak harus dengan bedak tebal atau memasang kawat gigi. Yang terpenting adalah berlaku lurus, hati bersih, dan punya perilaku baik.

Nah, bagaimana? Lirik lagunya punya makna dalam banget kan? Goyang dangdut koplo dulu yuk!

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here