Terminal, Pencuri, dan Mimpi-Mimpi

0
1165
a railway nocturne

Burja berfikir berkali-kali sebelum memutuskan keluar dari rumah. Tidak ada tempat yang benar-benar ingin dia tuju. Yang jelas, dia hanya ingin mencari kesegaran akibat panasnya tekanan dari keluarganya di rumah. Tentu, perihal ekonomi yang membuatnya harus bertengkar dengan mertuanya. Ini bukan pertengkaran yang pertama kali. Namun sudah berulang kali.

Sudah hampir setahun ini Burja menganggur. Tiap hari, pekerjaannya tidak lebih hanya kluyar-kluyur di warung. Keahliannya yang hanya sebagai pegawai pabrik, tidak lekas membuatnya segera mendapat pekerjaan akibat menerima PHK sepihak dari pabrik tempat dia bekerja. Kondisi itu yang membuat ekonomi di rumahnya limbung.

Meski sudah memiliki dua anak yang masing-masing bersekolah di Sekolah Dasar (SD), Burja hidup bersama mertuanya. Ibu dari sang istri yang ikut nimbrung di dalam rumah kontrakan sempit di sela-sela gang kecil Kota Surabaya. Istrinya pun tidak memiliki pekerjaan tetap. Sesekali dia menjadi tukang cuci dan setlika di rumah tetangga. Namun, sudah hampir 6 bulan ini sang istri berjualan gorengan di depan sekolah yang berada di dekat rumahnya. Setiap pagi Burja membantu istrinya berjualan kue.

Mertua Burja belum terlalu tua. Rutinitasnya hanya beres-beres rumah, mengurus cucu pergi ke sekolah dan selebihnya tidak melakukan pekerjaan apapun. Mungkin karena tidak memiliki banyak pekerjaan, sang mertua lebih mudah bertandang ke rumah para tetangga. Dari sanalah, kebiasaan rasan-rasan mulai terbangun. Dan dari kebiasaan itu pula, banyak masalah justru terjadi di rumah Burja sendiri.

“Mbok ya, bojomu kui disuruh kerja. Lelaki kog penggaweane cuma kluyar-kluyur saja,” ucap mertua Burja suatu malam, di depan anak dan menantunya.

Sebagai lelaki normal yang masih diberi kenikmatan sehat oleh Tuhan, mendengar keluhan itu di depan telinga kepalanya sendiri tentu seperti tersengat listrik: panas dan menyakitkan. Namun, selaku menantu yang menjaga kesopanan pada mertua, Burja pura-pura tidak mendengar dan sepintas lalu melupakannya.

Sayangnya, seiring dengan tingginya intensitas rasan-rasan mertua Burja bersama para tetangga, kondisi rumah Burja kian memanas. Itu terjadi karena hampir setiap sore hingga malam, saat seluruh anggota keluarga Burja berkumpul, mertua yang hobi bergosip itu selalu memberi dampratan sarkas kepada Burja dan istrinya. Tidak jarang, itu dilakukan di depan kedua cucunya.

Kondisi itu yang membuat Burja muntap. Pernah suatu saat dia menggebrak meja karena si mertua secara terang-terangan menunjuk muka Burja di depan istri dan anak-anaknya, sekaligus menyuruh Burja agar segera mencari pekerjaan. Dipermalukan di depan istri dan anak-anaknya, lelaki mana yang tidak marah? Burja pun membentak ibu mertuanya. Dan kejadian seperti itu terjadi berulang kali.

Istri Burja, adalah perempuan yang baik. Menyaksikan perbuatan ibunya kepada suami yang sangat disayanginya, sebenarnya dia juga tidak tega. Bahkan, beberapa kali, saat Burja tidak di rumah, sang istri kerap menasehati ibunya agar lebih menghormati suaminya (sang menantu). Namun karena merasa lebih tua, sang ibu tidak terima dinasehati anaknya dan justru marah-marah. Sebagai anak yang takdzim kepada orang tua, istri Burja pun tak bisa berbuat apa-apa.

Begitupun yang terjadi sore ini, sesaat setelah Burja pulang dari warung kopi, sang mertua kembali membentak-bentaknya dan berkata kasar di depan istri dan kedua anaknya. Dengan perut lapar, Burja yang disulut emosi pun balik membentak ibu mertuanya sembari memukul pintu dengan kepalan tangannya. Istri dan kedua anaknya pun menjerit dan menangis melihat kejadian itu. Tak tega melihat istri dan kedua anaknya yang menangis, Burja memutuskan pergi dari rumah.

Burja berfikir berkali-kali sebelum memutuskan keluar dari rumah. Tidak ada tempat yang benar-benar ingin dia tuju. Yang jelas, dia hanya ingin mencari kesegaran akibat panasnya tekanan dari keluarganya di rumah. Tentu, perihal ekonomi yang membuatnya harus bertengkar dengan mertuanya. Ini bukan pertengkaran yang pertama kali. Namun sudah berulang kali.

Burja terus melangkah menjauh dari rumah. Tidak tahu harus ke mana. Surabaya, baginya tetap menjadi kota besar yang sangat kejam karena tak mampu memberi penghidupan kepadanya. Di setiap langkah yang dia titih; terbayang betapa sakitnya di-PHK sepihak oleh perusahaan, mulut rombeng dari mertuanya, biaya sekolah kedua anaknya, hingga pendapatan kecil dari istrinya yang hanya berjualan kue di depan sekolah.

Langkah gontai Burja kian tidak terarah. Kian lama dia merasa kian lelah. Dari sanalah, Burja memutuskan untuk beristirahat di terminal Bungurasih. Siapa tahu, di tempat itu dia bisa jadi buruh angkutan. Sayang, meski malam kian terasa dalam, tak ada pertanda apapun terkait pekerjaan dan pendapatan. Sejumlah pegawai terminal yang dia tanyai terkait pekerjaan, hanya menggeleng tanpa kepastian. Burja pun berusaha menahan lapar dengan tidur-tiduran di beranda terminal.

**
Moha sangat berbahagia. Sambil menyisir rambutnya di depan cermin, matanya berkaca-kaca. Ada dua hal yang membuatnya seakan ingin hidup seribu tahun lagi. Selain hubungan cintanya bersama Immah semakin matang, dia juga mendapat sejumlah proyek percetakan kalender dari beberapa instansi pemerintahan. Dia merasa, rezekinya benar-benar sedang digelontorkan Tuhan beberapa bulan ini. Sebagai wirausahawan muda yang berusaha hidup mandiri, memiliki calon istri dan mendapat proyek pekerjaan tentu menjadi nikmat Tuhan yang sangat dia syukuri.

“Aku kira, uang hasil pekerjaan ini sudah bisa buat melamar dan menikahimu, Dek,” kata Moha di depan Immah, kekasihnya, suatu senja di sebuah cafe.

Immah, perempuan muda yang hampir setahun ini menambatkan hati kepada Moha, juga terlihat bahagia. Permintaan Immah memang tidak mewah. Dia hanya ingin segera dilamar dan melangsungkan pernikahan secara sederhana. Baginya, Moha adalah pribadi yang cocok dan dia idam-idamkan sejak lama. Selain pekerja keras, Moha juga lelaki yang sopan kepada kedua orangtuanya.

Tak pelak, keinginan mereka berdua untuk segera melangsungkan pernikahan pun kian membara. Meski baru menjalin hubungan sekitar delapan bulan, Moha sudah kenal baik dengan kedua orangtua Immah. Begitupun sebaliknya, Immah sangat mengenal baik kedua orangtua Moha. Maklum, keduanya masih terhitung tetangga kecamatan.

Moha biasa mengerjakan kerja percetakan dengan dua tahap. Tahap desain dan tahap cetak. Untuk tahap desain, dia bisa kerjakan sendiri di rumah. Namun untuk tahap cetak, dia harus oper pekerjaan itu ke percetakan besar. Biasanya, dia mengoper kerja percetakan ke Surabaya.

Sudah tiga hari ini, Moha melembur pekerjaan di rumah. Maklum, sejumlah pesanan sudah hampir mendekati masa deadline. Kondisi itu pula yang membuat dirinya kerap tidak pernah tidur malam akibat lembur. Meski melelahkan, dia mengerjakan itu semua dengan penuh ketelatenan. Selain memang rajin bekerja, ada motivasi lain yang mendasarinya: ingin segera melangsungkan pernikahan.

Sore ini, dengan membawa tas besar berisi laptop dan piranti kerjanya, Moha berangkat ke Surabaya. Tentu, untuk mencetak sejumlah kalender yang sebelumya telah dia desain di rumah. Dia berangkat ke Surabaya berbekal wajah Immah dan segepok semangat untuk segera menikah. Tiap kali dia terbayang wajah Immah, tiap itu pula gairah kerjanya kian membuncah.

Hari sudah malam ketika Moha sampai di terminal terbesar di Asia Tenggara, terminal Bungurasih Surabaya. Sambil membaca-baca buku yang dia bawa, Moha menunggu angkot yang bakal mengantarnya ke tempat tujuan. Namun hingga menjelang tengah malam, angkot yang ditunggu tak kunjung datang. Setelah tanya kesana kemari, ternyata para buruh angkot banyak yang mogok bekerja karena ikut demonstrasi, menolak keberadaan angkutan online. Dampaknya, terminal pun sangat sepi. Begitupun angkutan online, tak ada yang mau melayani.

Kian malam, mata Moha kian memerah. Tiga hari tidak tidur malam yang terakumulasi dengan lelah perjalanan, memicu buai kantuk yang tak terelakan. Tanpa dia sadari, Moha pun terlelap sambil mendekap buku yang dia baca. Lelapnya kian dalam seiring angin malam yang membuai dan mentransformasi lelah Moha menuju dimensi mimpi.

Burja gagal menahan lapar. Beranda terminal yang dia gadang-gadang mampu meredam instrumen keroncongan dari dalam perutnya, tidak bekerja dengan baik. Tiap kali dia memejamkan mata, seolah ada teriakan kencang dari mertuanya. Dia terbangun dalam gigil kesendirian nan dingin. Dengan lelah lahir batin yang dia derita, dia terbangun dan berjalan sempoyongan tanpa tujuan.

Belaian angin malam semakin memperdalam lelap tidur Moha. Kian dingin, dia kian terlelap. Dalam tidurnya, Moha bermimpi bahwa pekerjaannya telah beres. Dia bertolak dari Surabaya. Dengan masih membawa tas ransel beserta peranti kerjanya, dia bergegas ke rumah Immah, menemui kedua orangtua Immah, sekaligus melamar dan menikahi Immah dengan resepsi sederhana, seperti cita-cita mereka berdua.

Burja menjauh dari beranda. Dia masuk lebih dalam ke terminal, melalui kelokan dinding-dinding dingin tanpa arah. Beberapa kali, wajah kedua anak dan istrinya melintas di kepala. Rasa lapar yang dia derita kian membabibuta, membuatnya hampir kehilangan kesadaran dan menjelang pingsan. Namun, Burja masih bisa menahannya—dengan terus berjalan kaki. Seolah ingin melupa lelah dan lapar yang dia derita.

Moha sempat berpindah posisi tidur. Jika sebelumnya buku masih dia dekap di atas dadanya, sambil tangan kirinya masih melingkar pada tas ransel yang ia bawa, kini posisinya berubah. Tubuhnya miring ke kanan, sedangkan buku yang semula berada di atas dadanya, tergelosor bebas di lantai. Moha memunggungi tas ranselnya.

Langkah kaki Burja sempat terhenti ketika melihat seorang pemuda kelelahan sedang tertidur di depannya. Seperti dirinya, pemuda itu juga terkapar dalam lelah yang amat sangat. Mata Burja sempat menangkap tas ransel yang berada di dekat punggung pemuda itu. Pada tas tersebut, dia melihat ada mertua baik hati yang tiap pagi menyapanya; istri dan tawa ceria kedua anaknya, dan tidak lupa, sepiring makanan yang ingin segera dia santap.

Di pagi buta, Moha terbangun dalam keadaan yang biasa saja. Seusai meregangkan tubuh, mengumpulkan sisa-sisa mimpi dan menguap sepuasnya, dia meraba-raba tas ransel di dekatnya. Moha sudah benar-benar terjaga dari tidur ketika mendapati tas berisi laptop, dokumen pekerjaan, handphone dan surat-surat penting lainya telah raib, mungkin tertinggal di dalam mimpinya.

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here