Tersesat di Bungurasih

1
1760
foto: parkablogs.com

Mari melanjutkan kisah-kisah Mukicoi. Ada banyak kisah yang nggak boleh terlewatkan. Kisah-kisah Mukicoi yang jika dibaca di bulan Ramadan ini dijamin tidak akan membatalkan puasa. Jadi tenang saja dan nikmati kisahnya.

Suatu hari, Mukicoi diajak keluar oleh seorang teman. Teman itu adalah mahasiswa UGM Jogja yang sedang mengambil kursus di kampung Inggris, Kediri. Mukicoi tentu girang bukan kepalang, karena ia diajak berlibur ke Jogja. Dibayangkannya berjalan-jalan di Malioboro dan Keraton Ngayogyakarta.

Lalu, berangkatlah mereka berdua naik bis jurusan ke Surabaya, tapi akan turun di terminal Jombang untuk kemudian berganti bis jurusan Jogja. Lantaran banyak penumpang, mereka duduk terpisah. Si mahasiswa duduk di kursi depan sedang Mukicoi duduk di belakang. Dasar Mukicoi tukang tidur, sepanjang perjalanan ia nyenyak tidur. Ketika bis sudah sampai di terminal Jombang, si mahasiswa turun lewat pintu belakang,  dan berpikir Mukicoi akan turun lewat pintu belakang.

Padahal yang terjadi sebenarnya Mukicoi tertidur dan tidak turun dari bis. Dan bis melanjutkan perjalanan menuju Kota Surabaya. Si mahasiswa pasti kebingungan mencari Mukicoi tidak ada di antara penumpang yang turun. Mau mencarinya kemana, wong bis sudah pergi.

Lalu bagaimana dengan Mukicoi?

“Bangun, mas.. bangun.. sudah sampai,” kata kondektur membangunkan Mukicoi.

Mukicoi menggosok-gosok matanya dan terbangun. Melihat semua penumpang sudah pada turun, segera ia ikut turun dari bis. Setelah turun, Mukicoi celingukan dan mencari temannya.

“Inikan terminal Bungurasih?” tanya Mukicoi kebingungan.

“Astagfirullah..” teriak Mukicoi selanjutnya. Ia baru sadar bahwa dia ketiduran dan tidak turun di terminal Jombang. Celakanya, dia tidak bisa menghubungi temannya demikian juga sebaliknya karena memang pada waktu itu ponsel tak dipunyai. Celakanya lagi, Mukicoi tidak membawa uang sepeserpun, karena temannya menjanjikan akan menanggung semua akomodasi selama di Jogja. Nasib!

Nah, kalau orang lain pasti sudah inisiatif bagaimana caranya agar bisa pulang ke Kediri. Tapi, Mukicoi tidak demikian. Dia pasrah dengan nasibnya dan berada di terminal Bungurasih selama seminggu. Di terminal, ia hanya duduk-duduk di ruang tunggu dan ibadah di musholla terminal. Makan dia nggak pernah memikirkan, karena rejeki ditanggung Gusti Allah.

Buktinya, setiap hari ada saja orang yang mengajak dia makan. Bahkan ada yang memberi pakaian dan uang untuk mandi di toilet umum. Salah satu dari orang yang membantunya, ada seseorang, sebut saja namanya Mukidin. Mukidin mengaku berasal dari Banyuwangi. Dia seorang bapak sekitar 40 an tahun.Tiap malam dia menemani Mukicoi menghabiskan waktu dan mengajaknya makan selama di terminal. Setelah hari ke-3 perkenalan mereka, Mukidin menyampaikan maksudnya. Ia hendak mengajak Mukicoi ke seorang mucikari yang sedang mencari laki-laki untuk ditawarkan kepada para wanita langganan. Intinya Mukicoi ditawari untuk menjadi seorang gigolo.

“Maaf pak, saya ini seorang santri. Berdasarkan ilmu yang saya pelajari, itu merupakan berbuatan maksiat dan dosa besar,” kata Mukicoi polos.

“Loh ini kan terpaksa, kamu butuh uang untuk pulang. Yang saya tahu perbuatan haram itu boleh kalau terpaksa. Toh tidak setiap hari. Sekali saja bisa dicoba. Fee nya besar lo mas. Setelah dapat uang kamu bisa pulang ke Kediri,” kata Mukidin merayu.

Mukidin bahkan sempat bercerita bahwa dia juga pernah bertemu seorang santri yang akhirnya mau diajak jadi gigolo. Tetapi Mukicoi tetap pada pendiriannya menolak perbuatan maksiat dan dosa besar. Sampai pada hari ke-6, Mukidin terus merayu Mukicoi agar menerima tawarannya. Hingga akhirnya di sore hari pada hari ke-6…

“Coi.. saya pamit dulu. Sore ini saya harus ke Banyuwangi ada urusan kerja,” kata Mukidin kepada Mukicoi. “Ini ada uang sedikit untuk makanmu malam ini,” Mukidin menambahkan.

Pada hari ke-7 Mukidin tinggal di terminal, di pagi hari, tiba-tiba Mukidin muncul dan menemui Mukicoi.

“Coi.. selama perjalanan saya ke Banyuwangi, entah kenapa saya kepikiran kamu terus.. saya merasa berdosa telah berusaha menjerumuskan orang baik-baik seperti kamu. Akhirnya saya putuskan turun dari bis dan balik ke sini untuk menemuimu,” kata Mukidin.

“Ini ada uang yang Insya Allah cukup untuk perjalananmu ke Kediri. Pulanglah, tempat ini tidak baik untuk kamu,” tambah Mukidin.

Mukicoi hanya bisa diam. Ia menerima pemberian uang dari Mukidin. Mukicoi merasa itulah pelajaran spiritual yang diperolehnya selama di terminal Bungurasih. Dia pun kemudian menulis di buku hariannya. Begini katanya: jangan tidur di sembarang tempat. Oalah Coi Mukicoi.

________________

*) Penulis alumni At-Tanwir, Sumberejo, Bojonegoro. Kini tinggal di Kota Kediri.

SHARE
Penulis menerbitkan buku Urip Mung Nderek Ngguyu, Menabur Tawa Menuai Bahagia (2019). Alumni Ponpes Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro. Kini Tinggal di Kediri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here