Tuhan Berwarna Coklat

0
968
foto: facebook/yudi rohmad

Dulu, saat Ain masih TK-A, selama beberapa minggu selalu ada momen sedih dan bersusah hati setiap ia ingat belum berhasil ketemu Tuhan. Ya, ia sangat sangat ingin ketemu Tuhan sampai menangis bercucuran air mata. Tentu setelah kami melalui proses cukup lama, hingga ia punya keinginan kuat untuk bertemu dengan Tuhan.

Sosok Tuhan harus diperkenalkan terlebih dahulu kepada anak sampai muncul rasa cinta. Setelah berhasil, barulah dikasih tahu satu per satu, bahwa yang disebut-sebut orang banyak sebagai kewajiban ibadah, seperti sholat, itu adalah panduan langsung dari-Nya, yang Dia sendiri telah memberitahukan cara itu untuk mencintai-Nya dan bertemu dengan-Nya.

Tentu saja tak semudah itu. Gundulmu kunu. Jangankan masih anak-anak, yang kosakatanya masih terbatas, sehingga juga kurang memahami penjabaran kalimat. Orang dewasa saja tak sedikit yang masih gagal dalam hal ini. Sosok Tuhan itu siapa belum kenal, anak sudah dipaksa sholat, diiming-imingi surga jika nurut orangtua, ditakuti neraka jika nakal, yang intinya orang tua malu jika punya anak tidak sholeh-sholehah dalam pandangan tetangga. Sejak kecil sudah dikondisikan untuk memaklumi penggunaan Nama Tuhan untuk kepentingan pribadi.

“Tuhan itu siapa? Siapa Dia, kok tahu-tahu nyuruh ini nyuruh itu,” begitulah protesku saat masih kanak-kanak. Ya tentu saja dalam hati, nggrundhel. Kalau aku katakan betul secara lisan, bisa nyonyor, bundhas, babak-belur tenan.

Bayangkan, jika wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah sholat. Untuk bersedia dekat saja kepada beliau, apalagi menjadi pengikutnya, butuh keberanian tingkat tinggi. Karena resikonya dimusuhi mayoritas penduduk Mekkah. Ayat-ayat Makkiyah (yang turun di Mekkah sebelum hijrah) lebih banyak terkait pengenalan tauhid-hakikat-ma’rifat. Dari surat ke-67 sampai ke-114, hanya surat ke-76, 98, 99, dan 110 yang turun pada periode Madaniyah. Silakan baca surat-surat pendek dan artinya.

Perintah sholat lima waktu baru terjadi saat Isro`-Mi’roj, menjelang hijrah ke Madinah, setelah 11 tahun penuh percobaan, bukan hanya dimusuhi, diboikot, dilempari batu sampai berdarah-darah, pengikutnya disiksa sampai mati. Bayangkan jika sudah turun perintah sholat lima waktu dan puasa Ramadhan. Tidak mungkin pula jumlah pengikut yang selain masih sedikit dan masih butuh penguatan iman itu lalu diperintah melawan dan berperang.

Setelah hijrah ke Madinah, dimana masyarakat muslim telah terbentuk, barulah ayat-ayat hukum turun satu per satu. Syari’at-thariqat-nya baru diberikan. Hukum jual-beli, hukum waris, dan aturan-aturan hidup bermasyarakat dan beribadah lainnya. Pun termasuk perintah melawan dan berperang, dengan aturan ketat dan tegas: dilarang membunuh wanita dan anak-anak (kecuali mereka ikut berperang maka boleh diperangi), dilarang membunuh orang tua dan orang sakit, dilarang membunuh pekerja (orang upahan), dilarang mengganggu para biarawan dan tidak membunuh umat yang tengah beribadah, dilarang memutilasi mayat musuh, dilarang membakar pepohonan, ladang atau kebun, dilarang membunuh ternak kecuali untuk dimakan, dilarang menghancurkan desa atau kota.

Di jaman semakin now, tampak semakin terbalik proses pendidikan dan pembelajaran. Proses Madaniyah dijejalkan tanpa didahului atau minimal diimbangi proses Makkiyah. Hingga proses pelajaran berbahasa pun terbalik. Yang secara alami seorang anak sudah akan cerewet di usia 5 tahun dengan bahasa ibunya, dengan proses Listening lalu Speaking, tetapi di pendidikan formal dijejalkan Reading dan Writing terlebih dahulu. Maka jangan heran jika pelajaran bahasa asing di SMP dan SMA selama 6 tahun tidak juga membekas.

Meski setelah mendalami dan mengamati fakta-fakta kehidupan sehari-hari yang prosesnya terbalik itu, ditambah penelusuran ayat-ayat Al-Quran sejak tahun 2000, tidak lantas aku akan memaksakan dan terburu-buru menginginkan hasil. Jangan malu untuk mengaku tidak tahu kepada anak.

“Apakah ayah pernah bertemu dengan Tuhan?”, tanya Ain bagai skakmat.
Setelah beberapa penjelasan yang tidak memuaskannya, dan memang sengaja jangan sampai ia puas, lalu saya kasih tahu sebuah Hadits.

“Mbak Ain… Nabi Muhammad pernah kasih tahu begini: ‘Jarak terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah saat ia bersujud’. Coba lakukan itu ya.”

Lalu Ain pergi, ke kamar opa-oma-nya.

Selang beberapa puluh menit lalu ia kembali ke kamar kami dengan wajah datar. Senang tidak, susah juga tidak.

“Gimana mbak? Sudah ketemu Tuhan saat bersujud?”

“Ketemu Yah. Tuhan warnanya coklat, kecil…” jawabnya masih agak sedih, sambil mendekatkan ujung jari telunjuk dan ujung jempol untuk mengisyaratkan “kecil”.

Aku santai saja, menunggu respon selanjutnya. “Bersabar menggembalakan irama dan proses”, satu dari sekian kunci dari mBah Nun yang aku genggam erat. Aku tidak akan buru-buru menidakkan yang menurutku salah atau mengiyakan yang menurutku benar.

Entah karena putus asa, atau mentok, Ain kembali bermain. Tetapi tampak sambil bermain terus berpikir. Teruslah berproses nduk. Waktumu masih panjang. Jamanmu akan semakin rumit. Semakin banyak yang menutupi Tuhan, memakelari hubungan Tuhan dan hamba, menjadikan umat sebagai komoditas merk dagangnya, dan seterusnya selanjutnya sebagainya

SHARE
Pemerhati psikologi pendidikan, kini tinggal di Kota Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here