Wanginya Aroma Desa dan Sekelebat Cerita Masa Kecil

Bustanul Arif (Penulis) saat di sawahnya

Ini adalah aset pertanian tinggalan bapakku. Sekarang dikelola oleh ibuku, digarapkan ke orang dengan sistem bagi hasil. Pagi ini aku diutus ibuku untuk melihat bagaimana pertumbuhan padinya.

Seraya menikmati pemandangan hijau yang terbentang di sana, ingatanku melesat ke saat-saat aku masih madrasah. Di sawah inilah aku dan teman-teman masa kecil bermain saat masa panen tiba. Kami mencari ikan di sela-sela genangan yang ada di sawah usai padi-padi yang menguning itu dibabat untuk dirintokkan dengan mesin dos (mesin perontok padi manual yang dikayuh seperti mengayuh sepeda angin). Atau mencari telur burung puyuh.

Di atas gundukan batang-batang padi (damen) yang menggunung, kami bermain lompat lompatan, atau salto. Sementara teman-teman kami yang perempuan memburu dan menjaring capung yang berseliweran luar biasa.

Ingatanku juga melesat saat usiaku beranjak tsanawiyah hingga aliyah (SMP hingga SMA), setiap masa tanam padi saya harus bantu bapak untuk “ndeder” (membenihkan padi), kemudian saat sudah berumur beberapa minggu mulai di”daut” alias dicabuti sebagai bibit yang akan ditanam (ditandur) oleh para pekerja. Umumnya mereka yang “tandur” adalah para perempuan. Sementara kami kaum lelaki tugasnya ndaut dan mendistribusikan bibit-bibit yang sudah dicabuti itu ke para petandur.

Baca Juga:  Poster Blendung Jagung: Makanan Tradisional yang Cocok Disantap Bareng Teh Panas

Saat musim kemarau para petani menanam tembakau. Di desaku, Ngemplak (Kecamatan Baureno, Kab Bojonegoro), adalah sentral pembibitan tembakau. Orang-orang menyebutnya dederan. Aktivitas bisnis tembakau di desaku sudah dimulai sejak pembibitan. Banyak petani dari luar daerah yang mencari dan membeli bibit di desaku. Setiap pagi sebelum sekolah, kami anak-anak sudah standby di pinggir jalan untuk menunggu orang-orang yang turun dari angkot untuk mencari bibit tembakau (dederan). Kami akan berlomba-lomba membujuk mereka untuk di bawa ke para pemilik dederan. Jika transaksi terjadi kami mendapatkan fee yang lumayan besar untuk ukuran anak sekolah. Nilainya melebihi uang saku kami selama seminggu.

Saat panen tembakau aku biasa diajak bapak untuk memanen pada pagi dan sore hari. Selepas jamaah subuh kami beranjak ke sawah untuk memetik daun-daun tembakau yang tua, mengumpulkannya dan mengangkutnya pulang ke rumah dengan keranjang tembakau. Biasanya bapakku yang bagian memikulnya pulang. Pukul 6 pagi aku sudah harus kembali ke rumah, membersihkan klelet (getah hitam tembakau yang rasanya sangat pahit) yang menempel di tangan memakai minyak gas, kemudian bersiap mandi untuk kemudian berangkat ke sekolah. Sebelum pukul 7 aku sudah harus sampai sekolah.

Baca Juga:  Arumi Bachsin: Perlu Peran Orang Tua Tingkatkan Literasi Anak

Sore hari selepas Ashar aktivitas memanen tembakau itu kembali dilakukan sampai menjelang Maghrib.

Malam di kampung saat panen tembakau

Di malam hari pada masa-masa panen tembakau kampung kami menjadi kampung yang hidup. Hampir tak ada rumah yang tertutup. Cahaya lampu listrik berpendar ke mana-mana. Kita bisa melihat bercahayanya kampung hanya dengan memandang ke langit dari kejauhan. Seperti kota yang tak tidur. Orang-orang ngerajang (memotong tipis2 daun tembakau yang sudah matang/menguning), menatanya di atas widik (anyaman bambu ukuran 40×100 cm tempat menjemur rajangan tembakau), kemudian menatanya ke tempat jemuran di halaman rumah.

Sebagian yang tidak ada aktivitas merajang, mereka mengembunkan tembakau yang sudah kering pada siang harinya, untuk kemudian ditumpuk berlapis-lapis hingga menjadi bal-balan (tumpukan tembakau yang siap dijual).
Masa-masa panen tembakau itu adalah masa paling indah bagi para petani. Karena saat kayanya petani di desaku adalah saat panen tembakau.

Tapi itu dulu. Sekarang realitasnya berbeda. Sejak sistem perdagangan tembakau berubah, nasib petani juga berubah. Pabrik-pabrik tembakau saat itumengubah sistem dengan kemitraan. Yakni hanya petani yang mau bermitra dengan petani saja yang mendapat jaminan untuk hasil tembaksunya bisa dibeli. Sementara yang tidak bermitra tidak bisa menjualnya. Kalaupun kemudian bisa, mereka harus menunggu kekurangan pasok dari pabrik. Itupun dengan harga yang murah.

Baca Juga:  Sosrodilogo dan “Che” Bojonegoro

Saat itu petani dibuat bergantung dan tak punya lagi nilai tawar pada harga. Para pembeli dari masyarakat pun juga sudah tidak bisa berdagang lagi karena semua dimonopoli oleh pabrik.

Pertanian Bojonegoro

Itulah dunia pertanian di Bojonegoro yang kian hari kian merosot. Nasib petani dikendalikan oleh korporasi, selain juga oleh perubahan iklim yang tak pernah bisa diprediksi.

Ah, begitulah. Hari ini aku bersyukur saja bisa menghiruo aroma desa. Aroma masa lalu. Aroma kenangan indah yang tak pernah terbeli dengan uang.

Ngemplak, 15 Januari 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *