Wisanggeni

0
1235

Adalah tokoh pemuda yang ‘edap-edapi’ dalam kisah pewayangan. Ia pernah ‘melabrak’ Bathara Guru, si-penguasa langit dan para dewa ini (dunia mayapada, madyapada dan arcapada dikuasainya). Konon, apa yang dilakukan Wisanggeni dalam rangka protes atas kebijakan Sang Bathara, yang sangat primordial. Dan mungkin saja, saya menduga juga persoalan pengelolaan APBN/APBD kerajaan yang dipimpin Bathara Guru ini, dianggap kurang pro-poor dan tidak partisipatif (Heuheuu).

Sebab, ‘miturut’ teori transformasi sosial ‘ala’ Dr. Mansour Fakih – seorang tokoh ORNOP, yang lahir di Bojonegoro – bahwa pembangunan harus berpusat pada pemberdayaan masyarakat, dengan membuka akses seluas-luasnya dan seadil-adilnya bagi warga (publik). Karena dengan begitu transformasi sosial akan berjalan pada jalur yang benar dan lebih baik. Dan pendapat Mansour Fakih ini telah di-imani dan menjadi visi Wisanggeni.

Kembali lagi pada sosok Wisanggeni.

Ia lahir dengan karakter yang kuat, kemauan keras, idealis. Tidak pandang bulu. Tak ada yang bisa mengalahkannya. Bahkan Pak Dhe-nya sendiri, Lek Hanoman dibuat tak berkutik. Istana Bathara Guru diobrak abrik. Sampai-sampai, Bathara guru ‘keplayon’ dan minta tolong pada Bathara Ismaya, Semar. Meskipun pada awalnya Ki-Semar ‘ogah’ membantunya, namun setelah Sang Bathara mengakui akan kesalahannya. Akhirnya Ki-Semar, yang tidak lain tidak bukan adalah kakak kandung Bathara Guru ini, bersedia ‘ngedem-ngedem’ Wisanggeni.

Singkat cerita, ketika Ki-Semar bertemu dengan Wisanggeni yang hatinya masih diliputi gejolak amarah pada Sang Bathara Guru. Ki-Semar menatap pemuda idealis tersebut dengan tatapan welas asih. Begitu juga Wisanggeni saat bertemu Ki-Semar, yang memancarkan aura ketulusan dan kebijakan, akhirnya amarah Wisanngeni pun tiba-tiba padam seketika. Ia takjub pada Ki-Semar. Meskipun ia adalah saudara tua Bathara Guru, tapi ia justru dekat dengan manusia; serta memerankan diri sebagai pelayan masyarakat bumi. Wisanggeni akhirnya hatinya luluh. Ia mendengarkan dengan penuh khusuk, tentang nilai-nilai kehidupan dan nasehat yang disampaikan oleh Ki-Semar. Mereka berdua pun ‘gayeng’, ngobrol tentang tatanan sosial, relasi politik kekuasaan dengan kesejahteraan warga, sambil ‘nyemil’ singkong rebus di belakang rumah Ki-Semar.

Terakhir..

Pada saat Baratayuda, perang politik perebutan kekuasaan antara Kubu Pandawa vs Kubu Kurawa, Wisanggeni tidak kelihatan batang hidungnya. Ia memang tidak mau terlibat dalam kancah perang politik tersebut. Ada yang mengatakan ia sengaja ‘nyingkreh’ dari urusan politik praktis. Tapi ada juga, yang menyebarkan desas-desus, bahwa orang idealis tidak cocok berpolitik praktis, yang membuat Wisanggeni tersisih dari percaturan politik di Barayuda. Entah mana yang benar, yang tahu pasti hanya Wisanggeni saja. Tetapi menurut sumber A1 (kualitas informasinya tidak diragukan lagi) mengatakan bahwa Wisanggeni bertapa, ia melebur diri atau ‘moksa’. Dan jadilah ia gelembung-gelembung Wisanggeni. Siapa yang menghirup gelembung-gelembungnya ini, akan menjadi pemuda idealis, seperti Wisanggeni.

 

SHARE
Penulis kini menjadi Direktur Bojonegoro Institute dan menyukai kajian-kajian sosial masyarakat. Juga menyukai kopi dan musik keroncong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here