Pesan Kebahagiaan dari Yargusec yang Hadir Anniversary Ngaostik

0
167
Black Swan membawakan lagu Trapped by Demon. Foto:Mahfudin Akbar

KEYAKINAN saya menemukan bukti meskipun sebenarnya sebuah keyakinan nggak butuh bukti. Yargusec hadir di Ngaostik #5 atau bertepatan dengan 1st anniversary akhir pekan lalu, Sabtu malam 14 April. Keyakinan saya sudah tertanam sejak pagi saat ikut mbantu usung-usung persiapan di tempat kegiatan, gedung Pepeika Jalan Veteran Bojonegoro. Kehadiran Yargusec, bahkan namanya, ternyata bukan kebetulan. Dia bahkan sudah hadir sejak saya, Dian Wisnu, Wahyu Riz dan Cusnul Ce. berkumpul menentukan judul untuk buku kumpulan cerpen karya teman-teman Ngaostik pada suatu malam bulan Maret.

Saat itu pulalah kami menetapkan lema Yargusec. Wahyu Riz yang paling bertanggungjawab terhadap kata itu hingga menjadi sebuah lema. Kata dia, Yargusec bermakna gembira, surga, kenyamanan hidup dan hal-hal yang mengingatkan manusia pada kebahagiaan.

Nah, ceritanya, Yargusec mendatangi Dian Wisnu tadi malam. Saya tak tahu alasannya mengapa Dian Wisnu yang didatangi. Mungkin karena dia tidak hadir di Ngaostik lalu Yargusec kasihan. Padahal Dian Wisnu  sudah menguras sebagian uang kas perkumpulannya (P.A.S. atau Pemuja Alam Semesta, sebuah sekte yang percaya bahwa alam semesta ada dan hidup mengiringi setiap tarikan napas dan pikiran manusia) untuk hadiah lomba cerpen Ngaostik.

Lalu Dian Wisnu mengirim pesan Yargusec kepada saya melalui WhatsApp dalam aksara yang aneh. Saya sempat tidak percaya sebelumnya, menggagap Dian Wisnu hanya mengarang. Yang dikirimkannya adalah fiksi, pikir saya. Fiksi sefiksi-fiksinya sampai bahasa dan aksaranyapun fiksi. Tapi begitu memelototi secara jeli aksara itu, di dada saya ada suara tesh! Ini benar-benar Yargusec. Meski ada semacam nada bicara dari Yargusec yang bermakna bahwa apa yang disampaikannya itu tidak penting untuk disebarluaskan, tapi saya tetap merasa itu penting. Saya suka yang begitu-itu. Suka menganggap penting apa yang tidak penting. Lagipula, intinya, saya ingin belajar menjadi penerjemah. Hehe. Ini kesempatan.

Sebenarnya perlu bertahun-tahun lamanya untuk menerjemahkan bahasa Yargusec. Untung saja ada Janoary M. Wibowo dan Cep Subhan KM yang datang di Ngaostik pekan lalu yang membuka sebuah lubang di otak saya yang akhirnya bisa menangkap tulisan Yargusec dan menerjemahkannya. Dan saya benar-benar, seperti kata mereka (Janoary M. Wibowo dan Cep Subhan) banyak melakukan transkreasi, bukan sekadar translasi. Pesan Yargusec tertangkap dengan jelas kecuali beberapa bagian. Saya menuliskannya di sini dan seperti yang saya katakan tadi, banyak melakukan transkreasi, semacam pembaruan atau penciptaan ulang bahasa tapi insyaallah tetap berpegang teguh pada inti pesannya. Hampir tak ada kesalahan dalam tulisan Yargusec kecuali kekurangtepatan menyebut kata Ngaostik. Dia menyebutnya Ngongostik. Tapi agar kalian tidak sebel, saya tulis Ngaostik saja di sini.

Begini tulisan Yargusec yang tanpa judul itu dalam aksara dan bahasa sehari-hari kita, hasil trankreasi saya:

+++

Aku, Yargusec, xxx (berupa angka. Menunjukkan usia, mungkin. Tapi entah berapa, saya tak tahu) tahun, senang bisa hadir di Ngaostik. Meski dianggap alien, aku senang bisa melihat orang-orang membaca buku. Aku jadi merasa punya teman. Aku tahu bahwa pembaca buku di kota kalian itu seperti alien. Aku kasihan sebenarnya dengan kota kalian, Bojonegoro, yang dari dulu hingga sekarang masih sibuk  menentukan identitas. Sampai-sampai sahabatku sesama alien, The Gogor, didaulat sebagai maskot di kota tepi bengawan solo ini. Beruntung sekali dia. Meski belum semua masyarakat menerimanya, aku percaya The Gogor dapat menebar inspirasi positif untuk umat manusia di Bojonegoro yang konon juga tak banyak punya harapan.

Harapan bagi warga Bojonegoro adalah tai kucing, begitu kata seorang pemuda yang membantah saat aku bilang padanya lewat pesan yang kusisipkan dalam sms laporan kesuksesan bahwa orang perlu harapan agar hidupnya semakin baik. Aku lupa nama pemuda itu; orangnya berkulit cokelat dan wajahnya manis, mudah tersenyum dan punya usaha di bidang pengisian tenaga untuk berkomunikasi (pulsa, paket data internet-penj). Note: laporan kesuksesan berarti laporan isi pulsa sukses –penj.

Aku bukan hendak menyampaikan pesan apapun di sini. Aku bukan seperti kawan-kawanku yang datang dengan 12 pesawat dan berpencar di 12 penjuru bumi untuk menawarkan sesuatu sebagaimana yang difilmkan oleh Dennis Villeneuve (Saya anggap Anda sudah nonton Arrival-penj). Aku tidak ingin menyampaikan pesan apa-apa. Aku percaya sepenuhnya pada orang-orang Ngaostik yang gemar baca buku. Mereka orang-orang cupu. Dan orang cupu itu tak banyak dosa. Tak perlu peringatan apa-apa pada orang yang tak banyak dosa.

Begini, aku sebenarnya agak jengkel disebut alien. Meski aku juga paham bahwa keberadaan alien itu sebuah keniscayaan. Segala di luar diri kita pada hakekatnya adalah alien. Diri kita bias eksis keberadaannya itu karena ada selain diri kita, liyan atau alien. Maka ini soal eksistensi yang wajib adanya. Manusia, bagiku adalah alien sebagaimana aku adalah alien buat manusia.

Aku hanya ingin menyampaikan kesanku pada orang-orang Ngaostik. Aku juga percaya hanya orang-orang Ngaostik yang memahami bahasaku. Bukan kebetulan Wahyu Riz mengundang Janoary M Wibowo dan Cep Subhan KM saat Ngaostik. Meski mereka tak paham bahasaku, paling tidak kalian sudah mendapat pencerahan mengenai pentingnya penerjemahan. Penerjemahan adalah proses berpikir itu sendiri. Jadi yang penting dalam hidup harus berpikir. Milih siapapun saat Pemilu nanti itu terserah, yang penting memikirkannya, jangan asal contreng. Mau Jokowi, Prabowo, Khofifah atau Saiful, terserah yang penting berpikir masak. Mau golput juga nggak apa-apa asal berpikir. Waduh kok sampai urusan Pemilu sih. Maaf.

……………… (paragraf ini tidak bisa saya terjemahkan. Agak mbulet. Intinya dia menyaksikan dari awal hingga akhir gelar Ngaostik kelima ini. Yargusec juga sempat ngedance saat Black Swan membawakan Trapped by Demon. Dia juga mengomentari kenapa acaranya agak telat. Barangkali kawan-kawan Ngaostik merasa sungkan, maka tak perlu sungkan sebab Ngaostik adalah amal saleh. Oh, iya ia juga mengucap selamat pada Bagus Hendy Suardana yang menang lomba, juga Cusnul Ce dan Miranti Oey. Juga dia merasa bergairah sekali dengan penampilan duo MC Radinal Ra dan Alfian C. Guritno yang gokil sekali. Selebihnya saya kesulitan mencernanya.)

Intinya itu sih pokoknya, nggak usah risau menghadapi hidup. Sedih atau senang itu biasa dalam hidup ini. Kalaupun senang ya jangan lupa bersedih. Tidak ada larangan untuk bersedih. Sebagai wakil kebahagiaan saya ingin tegaskan bahwa kebahagiaan itu berbeda dengan senang. Coba pikir, kenapa orang sedih bisa menangis, padahal dia sedih? Dia sedih tapi bahagia. Kukatakan dengan tegas ya (kok seperti kalimat khas salah satu tokoh dalam Dengarlah Nyanyian Angin karya Murakami ya?), bahwa kebahagiaan itu adalah puncak dari harapan di kehidupan ini, juga di ruang dan waktu yang akan datang. Kesedihan bukan lawan kebahagiaan, melainkan bagian darinya. Senang dan sedih berada dalam lingkaran kebahagiaan. Mungkin kalian nggak terima. Tapi beginilah alien sepertiku berpikir. Kesadaran macam begini sebenarnya aku dapat dari Bakti Suryo saat kubaca tulisannya tentang cara menyembunyikan tangis. Tentu saja Bakti Suryo hanya bergurau satir. Dia bahkan ingin menegaskan bahwa tak perlu menyembunyikan tangisan. Orang-orang yang menangis sambil mandi adalah orang paling konyol di muka bumi ini.

+++

Ada beberapa paragraf lagi. Namun saya pelit kalau ambil sendiri. Semua bisa ambil bagian untuk menerjemahkan. Yang pasti, Ngaostik #5, meskipun biasa-biasa saja, terasa istimewa. Kehadiran Yargusec paling kasat mata bisa diraba lewat energi positif dari lagu-lagu yang dibawakan oleh kelompok music Black Swan, Saddex dan Mbah Jazz. Beruntunglah orang-orang yang hadir di Ngaostik #5 kali ini.

SHARE
Tukang bikin sampul buku dan pengelola penerbit NunBuku. Tinggal di Bojonegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here